Pondok Pesantren Miftahul Huda Sukamaju Cianjur, “Bahasa Tauhid Itu Saklek Bukan Keras”

1
2649
Ajengan Uung Ruhimat Pimpinan Pondok Pesantren Mifthaul Huda Sukamaju Cianjur

Cianjur, 20/3 (beritalangitan.com) – Pondok Pesantren Miftahul Huda Sukamaju Cianjur didirikan oleh KH. Mustafa Kamal pada tahun 1997. Pesantren yang berdiri di atas tanah seluas duaribu meter persegi ini di awal pembangunannya dikerjakan secara bertahap. Bangunan masjid yang pertama ada, kemudian disusul dengan berdirinya pondok untuk putra dan selanjutnya secara bertahap dibangun juga pondok santri putri.

Pondok Putra, Pondok Putri dan Masjid Pondok Pesantren Mifthaul Huda Sukamaju Cianjur
Pondok Putra, Pondok Putri dan Masjid Pondok Pesantren Mifthaul Huda Sukamaju Cianjur

Pesantren Miftahul Huda Sukamaju ini dipimpin oleh KH. Uung Ruhimat, ia adalah alumni pesantren Miftahul Huda Manonjaya Tasikmalaya  tahun 1995. Seperti perjuangan Kiyai lainnya, Ajengan Uung sempat merasakan masa-masa sulit dalam beradaptasi dengan masyarakat sekitar dalam menegakkan nilai-nilai Islam secara utuh di masa awal ia mengelola pesantrennya.

“Mungkin saya dianggap terlalu keras dalam menyampaikan dakwah, padahal bahasa tauhid itu kan saklek bukan keras, sampai dulu pernah sekitar 3 tahun saya bermasalah dengan warga yang mungkin tersinggung akibat dakwah yang disampaikan”,  Ajengan Uung menuturkan.

Waktu itu yang disampaikan kepada masyarakat adalah ajakan untuk memurnikan tauhid, “Semua dosa akan Allah ampuni kecuali dosa syirik”, mungkin tidak semua orang menerima ajakan Ustadz asal Ciamis ini, rupanya sebagian ada yang merasa tersinggung atau merasa terusik.

Belajar dari pengalaman dakwahnya, Ustadz Uung merubah strategi dakwahnya dengan melakukan pendekatan langsung, memberikan teladan akhlak dan pelayanan langsung dimasyarakat.

Jika ada yang sakit harus yang paling pertama datang menjenguknya, menjadi seorang Ustadz harus mau cape melayani masyarakat apalagi yang berurusan seputar agama, semisal mengurusi proses jinayat jika ada orang yang meninggal, dan semacam itu papar Ustadz Uung.

Ustadz Uung pernah menjadi ketua DKM selama 6 tahun di masjid yang ada disekitar pesantren ini, ia menjelaskan pengalaman bersosialisasinya dengan masyarakat, Kyai harus terjun langsung di dalam permasalahan permasalahan masyarakat, salah satu yang saya benahi adalah dengan melengkapi semua kebutuhan masjid, kebutuhan kematian atau proses jinayat, memberikan pendidikan tentang jinayat, mengadakan pengajian mingguan, dan lain sebagainya.

“Alhamdulilah sekarang urusan kematian bisa terkendali dengan lancar, apalagi sekarang ada tanah khusus untuk kuburan yang dibeli dari hasil iuran mingguan pengajian walaupun masih lingkup RW”, tuturnya.

Ia mengatakan terjun di masyarakat harus penuh kesabaran karena seribu masyarakat sama dengan seribu masalah. Walaupun terkadang melelahkan tetapi menjadi seorang Ustadz harus bisa bersabar dan istiqomah.

Dengan kesabaran itu akhirnya berbuah berkah, hasil perjuangannya kini sudah terasa, pesantren Miftahul Huda Sukamaju telah memiliki 150 orang santri dan murid diniyah. Kedepan mudah-mudahan di pesantren ini ada sekolahnya juga dan bangunan untuk putri bisa di perbesar menjadi dua tingkat, harap sang Ustadz menutup perbincangan. (Tim Lipsus Beritalangitan.com)

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.