PP Manarul Huda, “Pesantren dibantu itu karena maju, bukan maju karena dibantu”

0
3276
Ajengan Uton Sultoniyah Pimpinan Ponpes Manarul Huda

Bandung, 31/10 (beritalangitan.com) – Tak seperti disebut beberapa sumber bahwa Kota Bandung sudah tidak lagi memiliki pondok pesantren salafiyah lagi, ternyata di dalam kota masih menyisakan sejumlah pesantren salafiyah, salah satunya seperti yang ditemui tim lipsus beritalangitan.com dikawasan Jl. Ir H. Juanda Rt. 05/01 Keluraan Ciumbuleuit Kecamatan Cidadap Kota Bandung.

Di kawasan ini berdiri sebuah pondok pesantren salafiyah bernama Manarul Huda, dipimpin oleh seorang Kyai kharismatik bernama Ajengan Uton Sultoniyah, pondok ini didirikan pada tahun 2001 lalu, meski santri disini hanya berjumlah 70 orang tetapi pengajian yang melibatkan warga bisa mencapai 500 orang setiap minggunya.

Saat ditemui tim lipsus beritalangitan.com Ajengan ini menuturkan perjalanannya membangun pesantren ini setelah dimukimkan gurunya dari pesantren Manarul Huda Limbangan Garut, bermodal sebidang lahan ditempat ini bersama beberapa santrinya Ajengan mencari batu di sungai dan mengangkutnya keatas dengan jarak dan kemiringan yang cukup terjal, sampai satu ketika dengan hanya memiliki satu sak semen sang Ajengan militan ini nekat membuatkan pondasi pertama dengan batu-batu yang diangkutnya sendiri di sungai.

Dari sanalah bermula hingga saat ini bangunan megah dan yang cukup mewah dengan fasilitas setara hotel kini berdiri, sistem sanitasi dan kebersihan di pesantren ini terjaga dengan baik, karena dalam mendidik santrinya Ajengan tak segan-segan menyapu dan mengepel sendiri seluruh ruangan sehingga membuat para santri akhirnya malu jika lantai kotor sedikit saja, seperti inilah seorang pemimpin berbuat dalam menerapkan aturan, yaitu dengan Uswah (contoh yang nyata) bukan dengan dogma atau memaksakan aturan apalagi dengan menggunakan kekerasan.

“Dulu waktu saya nyantri saya adalah anak yatim, kerasnya hidup tanpa orang tua membuat saya selalu bercita-cita ingin membantu yang lemah, untuk itu semua santri disini saya bebaskan dari biaya apapun, saya mendidik para santri untuk mandiri dengan bekerja apa saja, berdagang air mineral dan usaha apa saja yang bisa dilakukan, hingga dari hasil keringatnya itulah para santri belajar menghidupi dirinya sendiri, pesantren ini dihidupi oleh usahanya sendiri, jadi tidak perlu lagi mengharapkan bantuan atau belas kasihan orang lain jelasnya.

Kemandirian seperti inilah yang seharusnya dimiliki setiap pondok pesantren, karena sebuah pesantren memang tak bisa berdiri dari belas kasihan atau bantuan orang lain, karena wibawa dan kebesaran seorang Kyai akan redup ketika dirinya menengadahkan tangan mengharap belas kasihan, “jangan sampai orang lain ketakutan saat didatangi Kyai, takut dimintai sedekah atau bantuan, seharusnya kalaupun kita dibantu itu karena sudah maju, dan bukan maju karena dibantu tandas sang Ajengan.

(Tim lipsus pesantren beritalangitan.com)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.