PP Nurul Huda Sukamiskin, Antara Amanah dan Kondisi Zaman

0
3923

Bandung, 30/10 (beritalangitan.com) – Kawasan Kelurahan Sukamiskin Kecamatan Arcamanik  Kota Bandung memiliki akar sejarah kuat di dunia kepesantrenan, disini berdiri pesantren tertua di Bandung yang sudah berdiri sejak tahun 1883, didirikan oleh KH. R.Muhammad bin alqo bernama Pondok Pesantren (PP) Sukamiskin dan masih berdiri hingga sekarang, tetapi tak hanya itu Kyai Muhamad memiliki beberapa keturunan dan banyak diantaranya yang juga membuka Pondok Pesantren di sekitar Sukamiskin.

Seperti yang dikunjungi team lipsus pesantren beritalangitan.com Rabu 28/10/15, bernama pondok pesantren Nurul Huda yang dipimpin oleh salah satu keturunaan KH. Muhamad yaitu KH. Yusni  yang juga adalah ketua Hamida (Himpunan Alumni Miftahul Huda) Bandung Raya.

Sosok Kyai ini masih cukup kharismatik dan masih terpancar semangat sebagai Murabbi dan Mujahid di usianya yang sudah tak bisa disebut muda lagi ini, Kyai yang masih termasuk 70 orang angkatan pertama di lingkungan Miftahul Huda Manonjaya adalah Kyai yang cukup senior sehingga diamanahi memimpin Hamida Bandung Raya.

Saat ini sekitar 100 orang santri mondok di sini, meski rata-rata adalah mahasiswa dan pelajar namun sang Kyai tetap berusaha menerapkan konsep dan kurikulum salafi meski harus membagi waktu dengan jam sekolah para santrinya, meski mengaku tidak nyaman dengan keadaan tersebut namun demi  melayani Ummat hal tersebut tetap dijalaninya juga meski harus ketat mengatur jadwal dengan menyesuaikan kondisi santrinya.

“Kadang saya merasa seperti di poligami” tuturnya setengah berkelakar, entah saya ini yang muda atau yang tua yang jelas punya santri sambil sekolah itu harus banyak mengalah, padahal menurut kurikulum aslinya di Miftahul Huda jam belajar pesantren itu penuh dari sebelum shubuh hingga malam hari, tetapi karena kondisinya seperti ini ya disesuaikan saja.

Namun betapapun  sulitnya mengelola sebuah pesantren itu adalah sebuah upaya untuk memperkenalkan syariat islam kepada masyarakat, karena menurutnya lebih banyak  orang  yang  tak menginginkan dari pada yang ingin, dan lebih parah lagi banyak yang menginginkan tapi tidak tahu syariat itu seperti apa, oleh sebab itu upaya  mengelola ummat itu harus terus konsisten dan istiqomah meski apapun halangan dan kesulitannya.

(team lipsus beritalangitan.com) 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.