Pohon Mampu menunjukan Kebenaran Al-Qur’an bag 1

0
291
Ilustrasi : Nabi Zakaria diselamatkan Allah bersembunyi dibatang Pohon (Gambar: Uci Ahmad Sanusi)

Oleh : S. Guntoro

Demi Menolong Zakaria, Sebatang Pohon Rela Meledakkan Diri

Ini masih terkait dengan fenomena keluarga Imran. Keluarga Imran amat bahagia menyambut kelahiran putrinya, yang kemudian diberi nama Maryam. Sesuai dengan Nazar ibunya (Hanna), beberapa hari setelah dilahirkan riwayat lain menyebut setelah Maryam mencapai usia sapih), di bawalah Maryam oleh ibunya ke Baitul Maqdis, untuk dititipkan kepada seorang ahli ibadah. Dengan harapan kelak Maryam menjadi perempuan ahli ibadah serta mau mengabdikan diri merawat dan membersihkan tempat ibadah. Melalui proses seleksi, akhirnya Zakaria terpilih sebagai pengasuh Maryam.

Zakaria dikenal sebagai sosok yang amat taat beribadah, bahkan dia juga dikenal sebagai seorang Nabi. Disamping itu, Zakaria juga masih terbilang paman Maryam sendiri. Atas didikan Zakaria, Maryam pun tumbuh baik dan sehat serta menjadi sosok yang amat taat beribadah dan senantiasa memperhatikan kebersihan Baitul Maqdis dan lingkungannya.

Zakaria sempat terkaget-kaget karena setiap memasuki ruangan Maryam selalu menjumpai makanan yang terhidang, meski ia merasa belum membawakan atau memerintah orang lain untuk membawakan makanan ke Mihrab. Zakaria sadar bahwa makanan itu datang dari Allah. Zakaria menjadi bersyukur karena hal tersebut menunjukkan betapa dekatnya Allah dengan hambanya yang berserah diri dengan tulus dan taat beribadah seperti Maryam.

Berkat bimbingan Zakaria, sejalan dengan makin dewasanya usia, Maryam semakin bersungguh-sungguh dan khusu’ dalam beribadah. Ia benar menjadi seorang ahli ibadah yang amat intens bisa dibilang tiada tertandingi pada masa itu. Dalam kondisi kematangan spiritualnya itu, suatu hari Maryam ditemui oleh Malaikat, yang menyampaikan kabar gembira kepadanya, bahwa Allah akan menganugerahkan seorang anak, yang kelak akan menjadi seorang Nabi yang mulia, serta akan Allah berikan beberapa mu’jizat kepada puteranya. Tentu Maryam amat terkejut mendengar berita dari Malaikat tersebut.

Al Hafizh Ibnu Katsir dikutip Abu Fida’ (2008), menceriterakan, suatu hari karena ada keperluan penting Maryam keluar dari Baitul Maqdis, menuju ke arah timur masjid. Ditengah perjalanan ia bertemu dengan malaikat Jibril (dalam wujud manusia). Jibril menemui Maryam atas perintah Allah, sebagaimana terekam dam Al- Qur’an Surat Maryam : 19-21

“Dia (Jibril) berkata “Sesungguhnya aku hanyalah utusan Tuhanmu, untuk menyampaikan anugerah kepadamu, seorang anak laki-laki yang suci”.

Dia (Maryam) berkata “Bagaimana mungkin aku mempunyai anak laki-laki, padahal tidak ada seorang laki-laki yang menyentuhku dan aku bukan seorang pezina”.

“Dia ( Jibril) berkata “Demikianlah Tuhanmu berfirman. Hal itu mudah bagiku. dan agar kami menjadikannya suatu tanda kebesaran (Allah) bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami dan hal itu adalah suatu urusan yang (telah) diputuskan”.

Atas kehendak Allah, maka Maryam pun mengandung. Kehamilan Maryam mengejutkan keluarganya, termasuk Zakaria. Setiap pertanyaan atas kehamilannya, selalu dijawab oleh Maryam bahwa itu sebagai kehendak Allah. Bagi keluarga Imran yang memahami kekhusuan ibadah dan kepatuhan Maryam pada perintah-perintah Allah, jawaban Maryam tersebut bisa diterima. Namun bagi kaum Bani Israil di luar keluarga Imran, mereka umumnya sulit menerima penjelasan Maryam tersebut.

Berita kehamilan Maryam yang tanpa suami menggemparkan kalangan masyarakat Bani Israil, mengingat Maryam dikenal sebagai wanita yang sangat taat beribadah dan menghabiskan sebagian besar waktunya di dalam Baitul Maqdis. Berbagai prasangka, isu, gosip dan fitnah pun cepat menyebar, lantas sebagian masyarakat geram dan ingin menghukum lelaki yang menghamili Maryam.

Kemarahan masyarakat itu, karena mereka berfikir bahwa tindakan mereka telah mencemarkan nama baik Maryam dan keluarga Imran. Apalagi Maryam sebagian besar waktunya berada Baitul Maqdis, maka tindakan keji itu tentu dilakukan di dalam masjid. Tentu itu diluar keinginan Maryam, karena dia adalah perempuan yang amat taat beribadah dan selalu menjaga diri. Karena itu mereka berkesimpulan, lelaki itu pasti melakukan pemaksaan (memperkosa).

Akhirnya mereka (Bani Israil) memutuskan, untuk mencari laki-laki laki yang menyebabkan Maryam hamil, menangkapnya dan membunuhnya. Maka, munculah beberapa nama yang dicurigai sebagai penyebab kehamilan Maryam. Salah satunya yang dicurigai adalah Yusuf bin Ya’qub an-Najjar, yang tidak lain putra paman (sepupu) Maryam, yang juga rajin beribadah di Baitul Maqdis.

Pada hal Yusuf sendiri juga sempat terheran-heran dengan kehamilan Maryam. Nama lain yang jadi terduga oleh masyarakat adalah Zakaria, paman dari Maryam. Disamping rajin beribadah di Baitul Maqdis, Zakaria orang yang paling sering bertemu dan berkomunikasi dengan Maryam. Mengingat Zakaria lah yang mengasuh dan membimbing Maryam sejak kecil.

Ibnu Jarir dalam kitab Tarikhnya menceriterakan, mendengar isu-isu tersebut, Yusuf bin Ya’qub an-Najjar segera pergi jauh untuk menyelamatkan diri. Sedangkan Zakarya tetap berada di Baitul Maqdis karena ia merasa tidak bersalah. Suatu saat tampak banyak orang berdatangan di halaman Baitul Maqdis sembari memanggil- manggil Zakaria. Merasa ada firasat buruk, Zakaria keluar lewat pintu belakang masjid, lalu berlari. Orang-orang orang itupun mengejarnya dan masing- masing membawa senjata tajam. Setelah berlari cukup jauh, Zakaria merasa lelah dan tenaganya semakin lemah, sementara para pengejar kian mendekat.

Ditengah kepanikannya, tiba-tiba terdengar suara ledakan cukup keras dari sebatang pohon besar. Zakaria pun mendekati pohon itu. Tampak batang pohon itu merekah, dan semakin lebar rekahannya. Lalu pohon itu menyuruh Zakaria masuk kedalam batang pohon . Zakaria perlahan masuk ke dalam rekahan batang pohon itu, sehingga para pengejar tidak bisa melihatnya. Tapi tiba-tiba syetan menarik sorban Zakaria keluar batang pohon, sehingga para pengejar melihatnya. Para pengejar hendak menarik sorban itu, agar bisa menarik tubuh Zakaria Tetapi pohon itu lebih cepat menariknya dan menutup kembali batangnya. Para pengenar marah dan makin emosional. Maka batang pohon itupun digergaji (dipotong), sehingga batang pohon dan tubuh Zakarya di dalamnya pun terpotong (BERSAMBUNG)…

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.