Dari Mesir Via Suriah, Kisah Ibnu Batutta Tentang Kiswah Pelindung Ka’bah

0
630
Kabah dengan kain penutupnya, kiswah, yang mulai terangkat bagian ujung bawahnya.

Beritalangitan.com – Bila dicermati betul, bangunan Ka’bah memang terbuat dari tumpukan batu. Namun, dalam kesehariannya bangunan itu tampak anggun karena ditutupi kain hitam bertuliskan tenun kaligrafi berwarna kuning keemasan.

Adanya fakta ini, maka tak aneh bila banyak di antara para peziarah ke tanah suci tidak tahu apa fungsi kain selubung Ka’bah  (kiswah) dan di mana kain tersebut dibuat? Dan, ketidaktahuan ini masih terasa meluas dikalangan para calon jamaah haji yang kini tengah berada di Makkah atau dalam perjalanan menuju tanah suci.

Kain kiswah pada zaman dahulu –semasa Kerajaan Arab Saudi berada di bawah penguasaan Kekahifahan Turki — kain sutra hitam dan tulisan kaligrafi yang ditenun dengan benang emas, ternyata dibuat wilayah di Mesir. Sebelumnya lagi kiswah yang konon sudah dibuat sejak zaman nabi Ismail, pernah dibikin di Yaman.

Pada masa kekhalifahan Turki, Setiap tahun, sekitar sebulan menjelang tibanya musim haji, kain Kiswah ini dibawa sekelompok petugas kerajaan Itu dari tempat pembuatannya di Kairo menuju Makkah dengan melintasi  kota tua Damaskus. Dari kota tersebut, kiswah dibawa ke Makkah bersama para rombongan pejiarah haji. Pada tahun 1326 saat Ibnu Batutta pergi berhaji dari arah Damaskus, kiswah berada di antara rombongan besar peziarah haji yang jumlahnya kala itu sudah mencapai 20 ribu orang.

Jarak Damaskus-Makkah kira-kira terentang 820 mil. Jarak sejauh itu ditempuh para peziarah dengan naik onta  antara  45-50 hari. Di zaman akhir Kekhalifahan Ottoman Turki (tahun 1900-an) rute tersebut kemudian dibangunkan rel kereta api yang ‘mengular’ sampai ke tanah Hijaz. Namun jalur kereta api  ini sekarang sudah tak ada lagi. Menjelang Perang Dunia II  rel  dibongkar dan kemudian diganti dengan jalur jalan kendaraan biasa. Bila naik bus, jalur Danaskus-Makkah sekarang ditempuh waktu sekitar 24 jam. Sedangkan jalur Turki-Makkah di tempuh sekitar 40 jam.

Nah, bila dirunut dari Damaskus jalan menuju Makkah itu awalnya menuju ke arah selatan, menyisir sisi selatan Gurun Suriah sampai ke Oasis Ma’an. Dari tempat ini alur perjalanan sedikit berbelok ke arah tenggara, memutar Teluk Aqaba dan melintasi dataran tinggi yang ada di sepanjang pedalaman tepi timur pegunungan Hijaz. Setelah sampai di Tabuk, yang merupakan pintu gerbang utara menuju kawasan Arabia, karavan berhenti dalam waktu beberapa hari untuk beristirahat dan memberi minum unta-unta mereka.

Perlunya kondisi badan yang segar memang sangat penting karena jalur perjalanan berikutnya akan memasuki daerah yang tandus bergunung-gunung yang gundul dan berlembah luas berisi bebatuan karena di zaman purba merupakan bekas lapangan lahar. Nuansa keras ini harus dijalani sebelum kemudian masuk ke kota Madinah. Para pengelana gurun Arabia semenjak dahulu menceritakan bila wiayah utara Hijzaz tersebut sebagai suatu wilayah yang buas dan menakutkan.

“Bila sampai di tempat itu, para peziarah dan orang yang menuju Makkah berisiko besar diserang ‘samum’ (angin gurun yang sangat kering. Persediaan air bisa habis menguap. Harga air bisa sampai seribu dinar, tetapi keduanya si pembeli dan si penjual itu sama-sama mati,” tulis Ibnu Batutta ketika mengisahkan suasana perjalanan dari Damaskus menuju Makkah.

Kain Kiswah pada saat itu berada di barisan depan karavan peziarah haji. Benda itu dijaga sejumlah orang yang dipimpin seorang pejabat tinggi yang ditunjuk Sultan Turki sebagai Amir-Al Hajj. Rombongan pembawa kiswah dan Amir-Al Hajj memakai bendera berwarna meriah. Kiswah dibawa dengan menumpangkannya di banyak punggung unta.

Tentu perjalanan membawa kiswah dari Mesir menuju Makkah dengan melintasi gurun  pasir saat itu sebuah perjalanan yang sangat menantang dan sulit. Apalagi  ukuran kiswah sendiri sangatlah besar. Kain ini memiliki luas 658 m2 dan terbuat dari sutera seberat 670 kg. Jahitannya terdiri dari benang emas seberat 15 kg. Kain ini terdiri dari 47 bagian kain dan masing-masing kain memiliki panjang 14 m dan lebar 101 m.

Sayangnya acara mengganti kain kiswah tak bisa disaksikan semua calon haji. Ini karena kiswah akan diganti ketika mereka sudah mulai bergerak ke Arafah, yakni pada tanggal 9 Dzulhijjah. Namun, para jamah haji –terutama asal Indonesia– masih bisa melihat persiapan penggantian kiswah yang lazim ditandai dengan ditariknya kain kiswah yang berada di bagian bawah bawah Ka’bah. Akibatnya, saat itu Ka’bah terlihat seperti orang berpakaian setengah badan. Penarikan kain kiswah ke atas ini lazim terjadi sepekan sebelum puncak haji.

Setelah kiswah diganti, maka kiswah yang lama dipotong-potong menjadi beberapa bagian kecil. Lazimnya oleh pihak kerajaan Arab Saudi potongan kain kiswah ini dibagi-bagikan sebagai suvenir kepada berbagai orang dan para pejabat Muslim asing yang datang berkunjung ke negaranya.

Pada sekitar tahun 1620-an utusan Raja Mataram (Raja Banten juga)  pun telah sempat menerima potongan kiswah sebagai tanda mata. Pemberian itu diberikan penguasa atau ‘Syarif Makkah’ sebagai tanda persetujuan memberikan gelar ‘Sultan’ kepada Raja Jawa itu. Raden Mas Rangsang misalnya, ketika naik tahta kemudian berganti nama dengan menyandang gelar: Sultan Agung. Gelar ’Sultan’ yang didapatnya dari penguasa Makkah itu untuk menggantikan kebiasaan pemberian nama gelar raja peninggalan Majapahit yang lazim memakai sebutan Sunan atau Susuhan.

Selain itu, kebiasaan memotong dan membagikan kain kiswah itu sebenarnya juga mengacu pada tindakan yang dahulu dilakukan Umar bin Khatab. Kala itu, Umar juga selalu membagikannya kepada para jamaah. Oleh para jamaah haji, potongan kiswah ini mereka pakai sebagai kain pelindung kepala dari teriknya matahari yang menyengat kota Makkah. Sedangkan mengenai biaya pembuatan kiswah pada era Kerajaan Arab Saudi sekarang ini harganya telah mencapai 17 juta SR (Saudi Real). Kiswah juga telah dibuat di negara itu, bukan lagi didatangkan dari Kairo atau Yaman.

Namun, meski zaman terus berganti, Antusiasme mendapat potongan kiswah juga tetap terjadi hingga sekarang. Bahkan, bila diperhatikan dengan seksama, di luar bulan haji selalu  tampak pemandangan yang memperlihatkan robek-robeknya kain kiswah Ka’bah, terutama di bagian bawah. Ini karena banyak jamaah umrah yang nekad atau iseng mencuil kain kiswah dengan menggunakan silet dan gunting. Nur Jannah, seorang  jamaah umrah asal Makassar berapa waktu lalu dibekuk penjaga keamanan Masjidil Haram saat tawaf sembari menggunting kiswah. (die)

 

Sumber : Republika

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.