Hikmah dari Keteguhan Bilal bin Rabah – Bagian 1

0
568
Foto: Adegan penyiksaan Bilal bin Rabah oleh majikannya dan kafir quraisy karena ketauan masuk Islam saat pagelaran drama Sunda religi Kasidah Cinta Bilal Sang Muadzin karya Rosyid E Abby oleh Taeater Senapati, di GK Rumentang Siang, Kota Bandung, Jumat (17/5).

Beritalangitan.com – Sejarah mencatat salah seorang sahabat, yakni Bilal bin Rabah RA, adalah seorang sahabat yang terkenal. Ia muadzin tetap Masjid Nabawi. Semula ia seorang budak milik seorang kafir, yaitu Umayyah bin Khalaf, kemudian ia memeluk Islam yang menyebabkannya banyak menerima siksaan. Berikut kisahnya dalam kitab Fadhilah Amal yang ditulis oleh Maulana Muhammad Zakariyya Al Khandahlawi.

Umayyah bin Khalaf adalah seorang kafir yang sangat memusuhi Islam. Ia membaringkan Sayyidina Bilal RA. di atas padang pasir di siang hari yang sangat panas di bawah terik matahari sambil meletakkan batu besar di dadanya, sehingga Sayyidina Bilal RA. tidak bisa bergerak.

Lalu dia berkata kepadanya, “Apakah kamu siap mati seperti ini atau tetap hidup dengan syarat kamu meninggalkan Islam?” Dalam keadaan seperti itu, Sayyidina Bilal RA hanya berkata, “Ahad! Ahad”. (Hanya satu yang berhak disembah)”

Malam hari, ia dirantai dan dicambuk terus menerus sehingga badannya penuh luka. Esok harinya, dengan luka itu ia dijemur kembali di padang pasir yang panas sehingga lukanya semakin parah.

Tuannya berharap, ia akan meninggalkan Islam atau menggelepar mati. Orang yang menyiksa Sayyidina Bilal RA sampai keletihan, sehingga perlu bergantian. Kadang kala Abu Jahal, Umayah bin Khalaf, dan terkadang orang lain. Setiap orang berusaha menyiksanya sekuat tenaga. Ketika Abu Bakar RA melihat penderitaan Sayyidina Bilal RA, dia membeli Sayyidina Bilal RA dan memederkakannya.

Maulana Muhammad Zakariyya Al Khandahlawi menjelaskan hikmah dari kisah ini. Menurutnya, orang-orang musyrik menjadikan berhala sebagai sesembahan, sedangkan Islam mengajarkan tauhid. Inilah yang menyebabkan dari lisan Sayyidina Bilal RA selalu terucap, “Ahad! Ahad!”. Hal itu karena hubungan dan cintanya yang tinggi kepada Alllah SWT.

Bersambung…

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.