Profil singkat dan Sejarah berdirinya Masjid Gedhe Kauman Jogyakarta

0
1953
Masjid Ghede Kauman Jogyakarta

Oleh : Anwar Bustami*

Beritalangitan.com – Masjid Ghede Kauman di Jogyakarta merupakan salah satu mesjid bersejarah di Indonesia, disini saya akan menyampaikan profil dan sejarah singkat Masjid Gedhe Kauman yang juga menjadi Masjid Kraton Jogyakarta. Bangunan utama masjid ini, dibangun pada hari ahad wage, 6 Rabi’ul akhir tahun alip bertepatan 29  mei 1773, dalam sengkalan GAPURA TRUS WINAYANG JALMA: 1699 JW, 1187 H, 1773 M.Pada tahun 1775 dibangun Serambi Masjid, pada hari kamis kliwon 20 syawal tahun Jimawal, sesuai sengkalan YITNO WINDU RESI TUNGGAL : 1701 jw, atau TUNGGAL WINDU PANDITO RATU : 1189 H, 1775 M. Pada waktu itu dibangun juga PAGONGAN.

Pada tahun 1840 dibangun REGOL atau Gapura yang berasal dari kata GHAFURA yang berarti PENGAMPUNAN DARI DOSA. Dalam prasasti dibangun pada hari senin 23 syura tahun Dal, sesuai sengkalan PANDITA NENEM SEBDO TUNGGAL : 1767 jw,1255 H, 1840 M.

mas2

Pada tahun 1867 terjadi tragedi yang di kenal Lindu Gedhe atau gempa bumi ( gempa vulkanik ) yang merubuhkan bangunan serambi masjid ini, juga membawa korban  Kyi Pengulu pada waktu itu. dalam prasasti di sebutkan tragedi ini terjadi pada jam 5 pagi, 7 sapar tahun ehe, sengkalan REBAHING GAPURA SWARA TUNGGAL : 1796 jw, dan WARNA MURTI PAKSA NABI : 1284 H, 1867 M.

Tak lama kemudian SRI SULTAN HAMENGKU BUWANA VI memberikan kagungan dalem SURAMBI MUNARA AGUNG atau pilar pilar yang sedianya digunakan untuk membangun PAGELARAN KRATON NGAYOGYAKARTA HADININGRAT dialihkan untuk membangun kembali serambi masjid. sesuai prasasti pembangunan di lakukan pada jam 9 pagi hari kamis kliwon 20 jumadil akhir tahun Jimawal. Sengkalan PANDITA TRUS GIRI NATA : 1797 jw, atau GATI MURTI NEMBAH HING HYANG : 1285 H, 1868 M dan luasnya di tambah menjadi dua kali sebelumnya.

Pada tahun 1917 dibangun PAJAGAN ( tempat berjaga ) yang terletak di kanan – kiri regol sebagai tempat menjaga keamanan masjid dan lingkungan sekitar masjid.

TATA RUANG MASJID GEDHE

  1. REGOL/GAPURA

mas3

Nama dari bangunan tersebut” SEMAR TINANDU”. Dengan maksud semar  yang ditandu semar adalah tokoh wayang yang mempunyai budi pekerti luhur, juga sebagai guru, penasehat ataupun pamomong para satria luhur budi walaupun dia seorang rakyat jelata. Maka ditandulah semar sebagai ujud dari penghormatan.

  1. PELATARAN MASJID GEDHE

Pelataran atau halaman masjid, di halaman ini di tanam pohon :

a. SAWO KECIK

Mengandung maksud SARWO BECIK, yaitu segala yang baik dengan maksud orang yang masuk ke masjid hanya dengan niat baik yaitu ikhlas beribadah hanya kepada Allah,tidak karena yang lain.

b. KANTIL

Dengan makna yaitu KUMANTIL, maksudnya adalah agar orang selalu “kumantil” dengan masjid, atau mengikuti semua ajaran agama Islam dan hatinya terkait dengan masjid.

c. TANJUNG

tanjung menandung makna SINANJUNG, yaitu hanya ingin mendapat sanjungan dari Allah, bukan dari yang lain. kesimpulanya adalah semua tumbuhan yang tumbuh di sekitar masjid adalah simbol keihlasan dalam beribadah.

3.PINTU MASUK/ BETENG MASJID

Tiap orang masjid akan selalu di ingatkan akan siapa sesembahan kita. Di tiap jalan masuk masjid ada bentuk buah labu atau dalam bahasa jawa disebut WALUH, yang dengan maksud adalah WAALLAHU, juga buah labu jika dilihat dari samping akan membentuk kalimat Allah dengan huruf arab.

  1. PASUCEN

Ada dua maksud yang disebut pasucen atau tempat bersuci, yaitu :

  1. kolam yang memutari masjid, yang pada saat orang masuk masjid agar bersuci dahulu.
  2. jalan tengah masuk ke masjid, maksudnya adalah saat melewati jalan masuk masjid maka sertakanlah niat suci hanya karena Allah semata,bukan niat yang buruk agar mendapatkan barokah dari Allah.
  1. SERAMBI MASJID

Serambi Masjid Gedhe ini selain digunakan untuk sholat dikala ruang utama tidak menampung jamaah, serambi ini juga digunakan untuk menyelesaikan urusan keduniaan  seperti akad nikah, pembagian warisan,pemberangkatan jenazah stelah di sholatkan di masjid ini dan lain sebagainya. Oleh karena itu serambi masjid ini juga diberi nama AL MAHKAMAH AL KABIROH Serambi ini di hiasi dengan cat warna prada emas yang gemerlap yang melambangkan gemerlapnya dunia, oleh karena itu serambi ini juga disebut ruang dunia. Tiang tiang di sermbi ini mempunyai ukiran yang disebut PUTRI MIRONG, ukiran tersebut merupakan kaligrafi dari tulisan Allah dan Muhammad. Di atap dalam sisi sisi  terdapat simbol kepala buaya mengarah keluar. Buaya dalam bahasa jawa yaitu BOYO, dengan maksud BEBOYO atau dalam bahasa indonesia berbahaya. Maksud dari kepala buaya mengarah keluar adalah diluar masjid banyak hal yang membahayakan iman manusia. Disini ukiran ukiran selalu berbentuk tumbuhan menjalar yang dalam dunia pahat atau batik jawa dinamakan sulur atau lunglungan, dengan maksud SULUR yang betarti SEDULUR atau SAUDARA, ini mengajarkan bahwa sesama muslim adalah saudara. Sedang LUNG LUNGAN yaitu mempunyai makna ULUNG ULUNG atauMEMBERI, menjadi gambaran bahwa tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah atau dermawan. Dan TETULUNG yang berarti TOLONG MENOLONG, sebuah ajaran dimana dalam kehidupan didunia dan bersifat keduniaan harus saling membantu dan bahu membahu dalam kebaikan. Kemudian di tiap delapan saka guru terdapat ukiran berbentuk NANAS, yang maksudnya diserambi ini sebagai sarana hubungan antar manusia atau HABLUM MINANNAS. Di dekat ukiran nanas ini juga terdapat simbol lingkaran sebagai lambang hidup didunia yang berputar dimana kehidupan manusia kadang berada di atas kadang di bawah, untuk mengingatkan agar manusia tdak sombong ketika di atas dan selalu sabar ketika dibawah, ukiran ini disebut CAKRA MANGGILINGAN. Namun yang menjadi tradisi di serambi ini adalah pengajian peringatan isra’ mi’raj dari kraton yang  di ikuti para abdi dalem dan pengajian disampaikan oleh kyai Pengulu keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

  1. RUANG UTAMA

Ruang utama masjid ini tanpa cat yang melambangkan kepolosan, orang yang hendak beribadah harusnya meninggalkan fikiran keduniaan yang gemerlap dan hanya tertuju pada Allah tanpa melalui perantara apapun, dan dengan niat bersih suci. Ruangan utama ini disebut ruang TAUHID. Bangunan ini berbentuk TAJUK LAMBANG TEPLOK atau lampu minyak, dengan maksud bahwa masjid adalah penerang segala hal didunia ini.

Atapnya bersusun TIGA dengan hiasan di atasnya DAUN KLUWIH dan GADA. Atap susun tiga melambangkan tingkatan amalan manusia dari SYARIAT, HAKIKAT, MA’RIFAT. namun ada juga yang mengartikan IMAN, ISLAM, IKHSAN. Daun kluwih berarti LINUWIH atau mempunyai kelebihan, gada simbol tunggal/ satu/ esa. Jadi arti atau maksud keseluruhan adalah tingkat amalan manusia harus sesuai urutan dan jika mencapai ma’ rifat,atau mengamalkan tiga amalan itu dengan rutin dan ihlas maka akan LINUWIH atau mempunyai kelebihan dalammendekatkan diri dengan  Allah SWT yang maha Esa. Itulah maksud dari kata MANUNGGALING KAWULA KALAWAN GUSTI.

Dalam ruang utama juga terdapat MIHRAB atau tempat imam, di sebelah kanan terdapat MAKSYURA atau tempat sholat khusus Sri Sultan kala berjamaah di masjid ini, yang sekaligus sebagai tempat pengamanan atau penjagaan raja untuk antisipasi hal yang tak di inginkan. Maksyura ini satu tingkat diatas jamaah lain, di maksyura ini juga dilengkapi tempat menaruh tombak prajurit. Di sebelah kanan mihrab terdapat MIMBAR KHOTIB undak tiga terbuat dari kayu jati yang dilapisi emas sehingga mirip dengan singgasana agung, hal ini dimaksudkan untuk lebih menjunjung tinggi seorang ulama atau imam atau guru, karena raja juga membutuhkan nasehat dari beliau.

SEKATEN

Sekaten adalah tradisi  yang memperingati  kelahiran RASULULLAH SAW, yang lebih dikenal dengan MAULID NABI MUHAMMAD SAW. Sekaten sendiri berasal dari kata SYAHADATTAIN yang berarti dua kalimat syahadat. Sekaten adalah satu sarana dakwah yang digunakan para wali hingga menjadi satu tradisi tahunan disekitar masjid kerajaan islam.

Sekaten ditandai dengan masuknya dua perangkat gamelan dari Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, yaitu kyai Guntur madu dan Nagawilaga, dibawa ke depan Masjid Gedhe Kauman tepatnya pada tanggal 5 Rabi’ul awwal. Gamelan ini dibunyikan selama satu minggu penuh hingga tanggal 12 Rabi’ul awwal, dan sekaten ini ditutup dengan GREBEG. Grebeg adalah hadirnya gunungan dari kraton sebagai sedekah Sri Sultan kepada rakyatnya. Pada malam Grebeg atau malam peringatan mauld Nabi Muhammad SAW di adakan pengajian khusus yang dihadiri Sri Sultan Hamengkubuwana, dan para jamaah adalah abdi dalem dan tamu undangan dan wajib mengenakan pakaian adat Kraton Yogyakarta. Grebeg sendiri di adakan tiga kali dalam satu tahun, yaitu :

1.Grebeg sawal, pada tanggal satu sawal atau Idul Fitri

2.Grebeg Besar, pada waktu Idul Adha

3.Grebeg mulud, yaitu pada maulid nabi Muhammad SAW

*penulis adalah salah satu pengurus Masjid Ghede Kauman Jogyakarta

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.