Saat Kompeni Penjajah Usik Suara Adzan Masjid, Ini Sikap Tegas Ulama Tempo Doeloe

0
929
Ilustrasi

Beritalangitan.com – Dalam buku “Dari Perbendaharaan Lama” yang ditulis oleh Buya Hamka pertama kali pada thn 1955, dimuat kisah tentang “Pemberontakan Haji Wasith” di Cilegon, Banten, pada 1888.

Pemberontakan itu diantaranya terjadi karena pemerintah kolonial dan para aparaturnya yang berasal dari pribumi abangan (residen, asisten residen, wedana, patih, dll), berupaya mengusik umat Islam, terutama terkait dengan menara langgar (mushalla) dan shalawat jelang adzan yang sering terdengar dari menara2 langgar tersebut.

Buya Hamka menulis, “Pada hari Senin malam Selasa, tanggal 9 djalan 10 hari bulan Juli 1888, kira-kira pukul setengah empat parak siang, bergeraklah pemberontakan mengepung Tjilegon.

Hadji Wasith dengan pengiringja akan masuk dari sebelah utara dan Hadji Ismail dan pengiringnja akan menjerang dari sebelah selatan. Jang mendjadi tudjuan utama ialah Patih, Raden Pennah, orang pegawai negeri jang kebelanda-belandaan, jang berani memerintahkan meruntuhkan menara langgar dan melarang orang terahim (zikir jelang adzan) dan shalawat, karena mengganggu telinga Tuan Asisten Residen.

Dengan sorak tahlil jang dahsjat dan seram, pemberontak telah masuk ke dalam kota Tjilegon mentjari musuh-musuhnja, orang jang mereka pandang menghalangi agama.

Assisten Residen Goebels jang tidak mau diganggu (karena) sedang tidur enak oleh suara azan subuh, tarahim dan salawat, itu mati karena luka-luka berat dalam pertempuran…”

(Buya Hamka, “Dari Perbendaharaan Lama, hlm. 87-88). (St)

 

Sumber : Kiblati.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.