Sejarah Mudik Lebaran Dimulai dari Kerajaan Majapahit

0
949
Ilustrasi : mudik

Beritalangitan.com – Bagaimana perjalanan mudik Anda tahun ini? Semoga lancar meski harus bermacet-macet ria. Demi bersilaturahim dan berkumpul dengan keluarga besar di Hari Raya Idul Fitri, jutaan orang rela membelah aspal jalan tol, antre masuk kapal laut, hingga pesawat udara.

Ternyata, mudik sudah menjadi budaya di negeri ini. Bisa jadi tradisi mudik menjadi fenomena mengangumkan di mata dunia.

Masyarakat Betawi yang punya Jakarta, juga mengenal istilah kata “mudik” yang berlawanan dengan kata “milir”. Bila mudik berarti pulang, maka milir berarti pergi.

Kata “milir” merupakan turunan dari “belilir” yang berarti: pergi ke Utara. Dulu, tempat usaha banyak berada di wilayah Utara -lihat sejarah Batavia dan Sunda Kelapa. Karena itulah kata “mudik” bermakna: Selatan.

Mudik Warga Betawi

Pendapat lain mengatakan, kaum urban di Sunda Kelapa sudah ada sejak abad pertengahan. Orang-orang dari luar Jawa mencari nafkah ke tempat ini, menetap dan pulang kembali ke kampungnya saat hari raya Idul Fitri tiba. Karena itulah, kata “mudik” dalam istilah Betawi juga mengartikan “menuju udik” (pulang kampung).

Ada pula pendapat mengatakan mudik merupakan tradisi primordial masyarakat petani Jawa. Mereka sudah mengenal tradisi ini, bahkan jauh sebelum Kerajaan Majapahit berdiri.

Biasanya tujuan pulang kampung untuk membersihkan pekuburan dan doa bersama kepada dewa-dewa di kahyangan untuk memohon keselamatan kampung halamannya yang rutin dilakukan sekali dalam setahun.

Tradisi ‘nyekar’ masih terlihat hingga kini. Kebiasaan membersihkan dan berdoa bersama di pekuburan sanak keluarga sewaktu pulang kampung masih banyak ditemukan di daerah Jawa.

Mudik di Zaman Kerajaan Majapahit

Secara etimologi, kata mudik berasal dari kata “udik” yang artinya selatan/hulu. Pada saat itu di Jakarta ada wilayah yang bernama Meruya Udik, Meruya Ilir, Sukabumi Udik, Sukabumi Ilir, dan sebagainya.

Saat Jakarta masih bernama Batavia, suplai hasil bumi daerah kota Batavia diambil dari wilayah-wilayah di luar tembok kota di selatan. Karena itu, ada nama wilayah Jakarta yang terkait dengan tumbuhan, seperti Kebon Jeruk, Kebon Kopi, Kebon Nanas, Kemanggisan, Duren Kalibata, dan sebagainya.

Para petani dan pedagang hasil bumi tersebut membawa dagangannya melalui sungai. Dari situlah muncul istilah milir-mudik, yang artinya sama dengan bolak-balik. Mudik atau menuju udik saat pulang dari kota kembali ke ladangnya, begitu terus secara berulang kali.

Bagaimana dengan pernyataan mudik telah ada sejak zaman nenek moyang? Beberapa ahli mengaitkan tradisi mudik ada, karena masyarakat Indonesia merupakan keturunan Melanesia yang berasal dari Yunan, Cina. Sebuah kaum yang dikenal sebagai pengembara. Mereka menyebar ke berbagai tempat untuk mencari sumber penghidupan.

Pada bulan-bulan yang dianggap baik, mereka akan mengunjungi keluarga di daerah asal. Biasanya mereka pulang untuk melakukan ritual kepercayaan atau keagamaan.

Pada masa Kerajaan Majapahit, kegiatan mudik menjadi tradisi yang dilakukan oleh keluarga kerajaan. Sejak masuknya Islam, mudik dilakukan menjelang Lebaran.

Mudik dari Kajian Timur Tengah

Untuk menguatkan akar mudik berkaitan dengan tradisi Islami, beredar pula argumen makna mudik dalam kajian ala Timur Tengah. Kata “mudik” seperti istilah arab untuk “badui” sebagai lawan kata “hadhory”. Sehingga dengan sederhana bisa diambil kesimpulan bahwa mudik, adalah kembali ke kampung halaman. Mudik dari akar kata “adhoo-a” yang berarti “yang memberikan cahaya atau menerangi”.

Ini bisa dipahami dengan mudah, bahwa mereka para pemudik itu secara khusus memberikan ‘cahaya’ atau menerangi kampung-kampung halaman mereka. Mudik dari akar kata “Adhoo’a”, yang berarti yang menghilangkan”.

Selanjutnya, mudik berasal dari bahasa Arab yang berarti: orang yang menghilangkan. Hal ini juga akan mudah kita tangkap, bahwa mereka pemudik itu adalah orang-orang perantauan yang dipenuhi beban perasaan kerinduan, dan kesedihan karena jauh dari orangtua, keluarga atau kampung halamannya. Karenanya mereka melakukan aktifitas mudik, dalam rangka ‘menghilangkan’ semua kesedihan tersebut.

Mudik dari akar kata “adzaa-qo” yang berarti “yang merasakan atau mencicipi“. Orang yang mudik ke kampung halaman pastilah mereka yang ingin kembali ‘merasakan dan mencicipi’ suasana kampung tempat kelahiran. (die)

Oleh: Wartawan Republika, Karta Raharja Ucu

 

Sumber : Republika

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.