Syaikh Badiuzzaman Said Nursi, Ulama dan Mujahid Yang Tak Lekang Oleh Masa

0
1802

Beritalangitan.com Syaikh Said Nursi adalah salah seorang ulama yang hidup pada masa Khilafah Islamiyah, lahir di provinsi Bitlis, yang terletak di Turki Timur pada tahun 1877. Beliau adalah orang yang sangat cerdas pada masanya, beliau mampu menghafal Alquran hanya dalam waktu 2 minggu, dan menghafal 90 jilid kitab-kitab pokok Islam, dan juga menguasai Bahasa Arab dan Parsi di samping Bahasa Turki dan Kurdi. Beliau telah menulis 3000 kitab dalam Bahasa Arab, dan juga mempelajari Ilmu Filsafat Barat dan peradabannya secara mendalam, dan juga telah menyusun 14 Ensiklopedia yang mencakup permasalahan Islam modern.

Beliau pelopor pertama pergerakan Islam di Turki Modern dan beliau juga yang pertama kali berkonfrontasi dengan Negara Sekuler Turki setelah runtuhnya Khilafah Turki Ustmani. Selama hidupnya, Syaikh Said Nursi telah dipenjara selama 28 tahun dan diasingkan sebanyak 21 kali, kebanyakan kitab-kitab karangannya ditulis di penjara atau di pengasingan.

Untuk pertama kali beliau belajar di Kuttab (madrasah) pimpinan Molla Mehmet Emin di desa Thag pada tahun 1886, di samping itu ia juga menerima pendidikan dasar dari ulama terkenal di daerahnya.

Pada tahun 1891, ia berangkat bersama seorang temannya menuju sebuah madrasah di Bayezids, salah satu daerah di Turki Timur di bawah bimbingan Syeikh Muhammad Jalali. Di sinilah Said Nursi mempelajari ilmu-ilmu agama dasar. Karena sebelumnya ia hanya mempelajari ilmu Nahwu dan Sharaf saja. Ia belajar dengan segala kesungguhan dan secara intensif hanya dalam waktu tiga bulan saja, selama itu, ia juga mempelajari dan menghafal seluruh buku yang dipelajari di sekolah-sekolah agama. Di sini ia mempelajari sekitar 80 kitab, di antaranya Jam’u al-Jawami’, Syarh al-Mawakif dan Tuhfah. Dari Madrasah ini juga ia mendapatkan ijazahnya.

Said Nursi berangkat menuju kota Van atas undangan walikotanya yang bernama Hasan Pasya pada tahun 1894. Kemudian ia pindah ke rumah Thahir Pasya. Dalam waktu yang relative sangat singkat, ia mampu menguasai matematika, kimia, ilmu falak, fisika, biologi, filsafat, sejarah, geografi dan lain lain. Dan berkat potensinya yang mampu menyerap berbagai disiplin ilmu dan otaknya yang sangat jenius, ia digelari Badiuzzaman (keajaiban zaman). Hal ini merupakan pengakuan dari para ulama atas kecerdasannya yang tajam, ilmu yang mendalam dan wawasannya yang luas.

Dengan latar belakang pendidikan yang telah dijelaskan, Said Nursi tidak puas dengan sistem pendidikan yang ada di Turki Utsmani. Pada tahun 1907 ia berangkat menuju Istanbul untuk menyampaikan usulan kepada pemerintah agar mendirikan sebuah madrasah yang bernama Madrasah Az-Zahrah yang mana ilmu agama diajarkan secara bersamaan di Turki Timur. Karena ia mengatakan “cahaya hati adalah ilmu-ilmu agama dan cahaya akal adalah ilmu sains modern. Hakikat akan terlihat jelas dengan menggabungkan keduanya. Ketika keduanya terpisah, maka akan timbul fanatisme pada salah satu (ilmu agama) dan skeptisme pada yang lain”. Namun tujuan ini tidak tercapai, karena pecahnya perang dunia I dan kondisi Turki Utsmani yang tidak stabil.

Ketika konstitusi kedua diundang-undangkan dalam sistem pemerintahan Turki Utsmani (23 Juli 1908), dia mendukung pemerintah konstitusional. Perhatiannya lebih difokuskan pada kegiatan orasi dan menulis makalah-makalah sebagai media untuk menjelaskan makna-makna kebebasan dalam Islam dan pengaruh Islam dalam kehidupan politik. Ketika terjadi pemberontakan pada 31 Maret 1909, ia ditangkap dan disidang di kemah-kemah tentara atas tuduhan menyebabkan kekacauan, ia telah mencoba menentramkan keadaan, akhirnya ia dibebaskan. Pada tahun 1910, ia pulang ke Turki Timur, ia berkeliling ke berbagai kota dan kawasan pedesaan termasuk kabilah-kabilah dalam rangka mensosialisasikan pemerintahan konstitusional dan makna kebebasan menurut Islam kepada masyarakat. Dialog Said Nursi dengan masyarakat dibukukan dalam sebuah risalah Munazarat (debat-debat) dan diterbitkan pada tahun 1913.

Pada tahun 1911 beliau pergi ke Damaskus untuk menyampaikan sebuah khutbah di Masjid Umaiyah tentang kondisi umat Islam dan cara mengatasi masalah-masalahnya. Khutbah ini berbentuk enam “kata” yang menjadi obat bagi “enam penyakit yang mengerikan” yang menghambat perkembangan dunia Islam. Penyakit itu adalah hidup dan matinya rasa putus asa, matinya kebenaran dalam kehidupan sosial, cinta kepada permusuhan, tidak mengetahui adanya tali suci yang menyatukan kaum muslimin, despotisme dan usaha untuk diri sendiri. Untuk mengatasi penyakit-penyakit yang melanda umat Islam, Said Nursi menawarkan beberapa obat, yaitu membangkitkan harapan, kejujuran, menjaga persaudaraan, menjaga persaudaraan antar umat Islam, dan penerapan prinsip musyawarah. Khutbah tersebut diterbitkan beberapa tahun kemudian dengan judul Hutbe-I Samiye.

Badiuzzaman adalah seorang yang pencinta kedamaian, namun ketika perang dunia I meletus dan Turki Usmani terlibat, ia pun ikut memanggul senjata dan bergegas menuju medan perang. Said Nursi bersama para muridnya dengan segala daya ikut serta menghadapi Tentara Rusia. Dan selama terlibat dalam pertempuran tersebut ia berhasil menyelesaikan tafsirnya yang sangat berharga, Isyarat al-I’jaz Fi Mazhan al-I’jaz, dalam bahasa arab. Penyusunan tafsir ini dengan cara didiktekan kepada salah seorang muridnya yang bernama Habib.

Ketika pasukan Rusia memasuki kota Bitlis, ia dan para muridnya berusaha mempertahankannya. Selama pertempuran ini Said Nursi terluka dan tertangkap oleh pasukan Rusia dan dibawa ke salah satu markas tawanan militer di Qosturma yang terletak di Rusia timur. Setelah Said Nursi berada di pengasingan sebagai tawanan perang selama dua tahun, ia berhasil melarikan diri dari sana, peristiwa ini terjadi setelah meletus Revolusi Bolsyevik.

Setelah ia pulang ke Istanbul, Nursi diangkat menjadi anggota Darul Hikmah Al-Islamiyah tanpa sepengetahuannya sebagai penghargaan kepadanya (13 Agustus 1918 M). para anggota Darul Hikmah ini hanya ulama terkemuka saja. Ketika Nursi berada di lembaga tersebut terjadi Transformasi yang menyebabkan perubahan Said lama ke Said baru. Pada masa ketika Inggris berhasil menduduki Istanbul (16 Maret 1920), Nursi berhasil menyelesaikan bukunya yang berjudul al-Khuthuwat as-Sitta (Enam langkah) yang mengkritik serangan Inggris.

Atas dasar jasa Nursi dalam Perang Dunia I dan perjuangan nasional, ia berulang kali diundang ke Ankara oleh Musthafa Kemal, hingga ia berangkat juga ke sana pada tahun 1922. Sayangnya ia tidak betah di Ankara karena melihat banyak para anggota Legislatif yang tidak shalat, suatu hal yang membuatnya sedih. Dengan demikian ia menyampaikan sebuah pidato yang memuat sepuluh materi kepada anggota dewan di Majlis Nasional pada tanggal 19 Januari 1923 agar mereka menjalankan kewajiban Islam.

Pada tahun 1925,ada satu pemberontakan yang terjadi di Turki Timur dibawah pimpinan seorang pemimpin Thariqah Naqsabandiyah kepada pemerintahan Turki sebagai perlawanan terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah Republik Turki yang baru. Para pemberontak meminta dukungan Badiuzzaman karena ia sangat berpengaruh di kalangan rakyat. Tetapi ia menolak seraya berkata, “pedang boleh digunakan untuk musuh dari luar, ia bukanlah untuk digunakan di dalam negeri, hentikan usahamu karena ia akan gagal, ia akan menyebabkan pertumpahan darah sesama muslim dan beribu-ribu orang akan terbunuh lantaran tindakan beberapa orang yang zhalim”. Walaupun Nursi tidak terlibat dalam pemberontakan tersebut, ia diasingkan ke Burdur, Turki barat. Sejak itu, kehidupan Nursi dilewatinya di penjara atau pengasingan selama 24 tahun. Selama periode ini, ia mengarang master piece-nya, yaitu Risalah Nur.

Pertama kali ia diasingkan ke Burdur selama beberapa bulan pada tahun 1926. Setelah itu ia diasingkan ke sebuah desa bernama Barla yang terletak di kota Isparta. Para musuh keimanan mengira ia akan meninggal dunia di desa Barla tersebut hingga kenangan tentang dirinya akan sirna. Akan tetapi Allah sungguh Maha Pengasih terhadap hamba-hamba-Nya, Dia melindungi Syaikh Nursi dengan fadhilah dan kemuliaan-Nya. Hingga akhirnya daerah Barla menjadi sumber pancaran sumber keagungan cahaya Al-Quran. Nursi berhasil menulis sebagian besar karya, Risalah Nur dan menyebarkannya melalui murid-muridnya selama tinggal di Barla.

Setelah 8 tahun di Barla, dia dikirim ke Mahkamah Eskisehir untuk diadili dengan tuduhan-tuduhan yang tidak berdasar seperti membentuk organisasi rahasia, menentang pemerintah serta membentuk thariqat. Pemeriksa sedikit pun tidak berhasil membuktikan bahwa ia bersama muridnya terbukti melakukan apa yang dituduhkan. Namun demikian pengadilan tetap memvonis kurungan sebelas bulan kepadanya sebagai hukuman atas karyanya Risalah Hijab, mengenai cara pakaian wanita.

Setelah bebas dari penjara Eskisehir, Nursi dikirim ke tempat pengasingan kedua, yaitu Kastamonu pada tahun 1936 selama 7 tahun, selama tinggal di Kastamonu ia melanjutkan penulisan Risalah Nur, pada periode ini Nursi selalu berkoresponden dengan muridnya secara rahasia, surat-suratnya disalin dan disebarkan ke kampung-kampung, desa-desa dan kota-kota di sekitar Kastamonu. Dengan kegiatan ini, aktivitas menyalin pun tumbuh dan berkembang. Di antara para murid yang menyalin ini sampai ada yang menyalin lebih dari seribu surat. Langkah ini akhirnya membuahkan enam ratus ribu eksemplar manuskrip Risalah Nur.

Pada tahun 1943 Nursi dikirim ke Denizli untuk dipenjara dengan tuduhan-tuduhan yang telah dijelaskan diatas. Pengadilan membentuk tim ahli untuk meneliti Risalah Nur. Hasil penelitian mereka menegaskan, bahwa dalam Risalah Nur tidak ditemukan unsur yang mengharuskan Nursi didakwa dengan tuduhan-tuduhan yang selama ini dialamatkan kepadanya. Kemudian pada tanggal 15 juli 1944, dikeluarkan ketetapan pengadilan bahwa Said Nursi bebas dari segala dakwaan yang dituduhkan kepadanya.

Setelah dibebaskan dari penjara Denizli, Nursi diharuskan menempati sebuah rumah di Kecamatan Emirdag di Afyon. Dia tinggal di Emirdag zampai tahun 1948. Selama 4 tahun itu ia telah banyak mendapat kunjungan dari kalangan masyarakat dan banyak mendapat murid. Ia juga telah berusaha menyebarkan Risalah Nur ke seluruh pelosok turki melalui pembaca Risalah Nur (Thullab An-Nur).

Pada tanggal 23 Januari 1948 M. polisi menggerebek dan menggeledah rumah Nursi. Ia bersama muridnya ditangkap dan dijebloskan ke sel rutan kota Afyon. Kali ini pun dakwaan sama dengan dakwaan yang dijatuhkan kepadanya sebelumnya. Padahal pengadilan sebelumnya telah menyatakan bahwa Nursi dan muridnya bebas dari dakwaan tersebut. Sidang pengadilan berjalan lama dan berakhir pada tanggal 6 desember 1948. Dia divonis penjara dua puluh bulan. Sedangkan vonis yang dijatuhkan kepada muridnya tidak seragam, bahkan ada yang dibebaskan. Nursi menolak vonis ini dan menyatakan banding. Dalam pengadilan tinggi ia dinyatakan bebas dari segala dakwaan yang dituduhkan. Namun ia telah menjalani hukuman penjara tersebut. Karena pengadilan Afyon memperlambat pembebasan tersebut dengan berbagai alasan.

Selama masa pengasingan dan penjara (1926-1950), halaqah pengajian tumbuh dan berkembang. Sementara itu para muridnya pun aktif mempelajari Risalah Nur dan menyalin dan menyebarluaskannya ke seluruh penjuru Turki. Nursi bangkit untuk menyelamatkan iman di kalangan masyarakat Turki. Menyelamatkan iman, inilah tugas pokok dan utama yang tidak boleh ditempuh dengan sikap tergesa-gesa dan emosi yang tidak terkendali, namun tidak boleh juga dinomorduakan. Semua penjara menjadi Madrasah Yusufiah yang mana para napi mempelajari agama disana.

Setelah tahun 1950 Nursi memasuki periode Third Said (Said ketiga). Aspek Third Said ini langsung terkait dengan kemenangan Partai Demokrat pada tahun 1950. Tetapi keterlibatan Nursi dalam bentuk dukungan dan bimbingan kepada partai digambarkan sebagai ahwan as-Syarr (yang paling sedikit keburukannya di antara yang buruk). Dia memilih Partai Demokrat untuk menghalangi Partai Republik agar tidak memerintah kembali.

Pada periode ini juga Said Nursi tinggal bersama murid-murid dekatnya untuk membimbing mereka dan mengajar metode dakwah Risalah Nur. Selain itu, halaqah pengajian Risalah Nur berkembang dan telah dibuka dersane (tempat studi Risalah Nur) di seluruh Turki. Di samping itu, percetakan Risalah Nur dibebaskan dengan keputusan pengadilan pada tahun 1956 dan Risalah Nur dicetak dan disebarkan di seluruh Turki.

Dengan pengabdian panjang untuk masyarakat Turki, Nursi meninggal pada tahun 1960. Dan penguasa belum merasa puas dengan tindakannya terhadap Syaikh Nursi, sehingga mereka membongkar makam Syaikh An-Nursi 3 bulan setelah wafatnya dan membuang jasadnya ke tempat yang tidak diketahui. Tetapi pengaruh Nursi tetap eksis dalam masyarakat Turki melalui karya-karya yang dihasilkannya. Dan saat ini, sebagian Risalah Nur sudah diterjemahkan dam 30 bahasa, termasuk Bahasa Indonesia. (st)

 

Sumber : islamstory.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.