Taat Berbuah Nikmat

Oleh : Mahmud Budi Setiawan

0
260

Sahabat, berikut, bisa dijadikan contoh bagaimana ketaatan seorang hamba bisa berbuah kenikmatan abadi di akhirat. Beliau adalah Handhalah bin Abi Amir. Meski ayahnya yang bernama Abu Amir adalah seorang rahib yang tidak mau mengimani Rasul, namun ia sama sekali berbeda, ia mau menerima cahaya Islam ke dalam relung hatinya.

Kejadian ini bermula pada pertempuran Uhud. Malam menjelang pertempuran Uhud, Handhalah adalah seorang pemuda yang sedang merayakan malam pengantin baru, ia sedang ber-honey moon. Pagi-pagi buta sewaktu ia telah menggauli istrinya, tiba-tiba ada kabar bahwa Rasulullah akan menghadapi pertempuran Uhud.

Dengan bergegas dan seketika itu juga Handhalah pergi untuk ikut serta berjihad di medan tempur. Sedemikian semangatnya ia sampai lupa belum melakukan mandi junub. Ketika perang Uhud berkecamuk, ia bertempur dengan gagah berani hingga meraih kesyahidannya.

Seusai perang, Rasulullah mencari dan memeriksa Sahabat-sahabatnya yang syahid. Ketika sampai pada Handhalah bin Abi Amir, Beliau beserta Sahabat lain yang masih hidup menjumpai keanehan dari keranda jenazah Handhalah bin Abi Amir. Keranda Handhalah bin Abi Amir meneteskan air. Melihat kejadian aneh ini akhirnya Rasulullah menanyakan langsung kepada istrinya, apa gerangan yang terjadi sebelum Handhalah berjihad.

Isterinya menjawab: Ia pergi berjihad menuju Uhud dalam kondisi belum melakukan mandi junub. Allahu Akbar……setelah itu Rasul mendapat pemberitahuan bahwa air yang menetes itu ialah karena telah dimandikan malaikat dengan air “muzni (awan).

Mungkin anda mengatakan ah masak, itu tidak masuk akal. Bagi anda yang tidak menyikapi ini dengan logika keimanan maka sanggahan semacam itu sangat logis. Logika keimanan menekankan pengetahuan penting pada kita: selama Tuhan yang melakukan, tiada kata mustahil untuk dilakukan.

Selanjutnya kita coba memeras inti sari kandungan hikmah yang dapat diambil dari peristiwa tersebut. Kalau kita analisa mengapa Handhalah mendapat kemulian semacam itu, bisa dijelaskan demikian:

Pertama: Semangat untuk berjuang dan berkorban begitu tinggi (bayangkan meninggalkan istri di waktu masa honey moonsangatlah susah). Kedua: Ketaatan tanpa reserve dan syarat (ketika yakin bahwa jihad itu perintah Rasul dengan seketika ia lakukan). Ketiga: Kerinduan yang sangat dengan kekasih sejati, yaitu Allah (kerinduan yang demikian dalam ini membuat segalanya larut tak bernilai).

Dari ketiga hal ini tentu saja sangat beralasan jika ia mendapat kemulian seperti itu.

Kemudian ada yang juga sangat penting diungkap pada tulisan ini yaitu: bahwa para pejuang di jalan Allah itu pasti dijamin kebutuhannya. Handhalah bin Abi Amir yang meninggal syahid sebelum melakukan mandi junub diberi perhatian yang luar biasa, dengan cara memerintah malaikat untuk memandikannya. Ingat bahwa para pejuang tidak akan disia-siakan kehidupannya oleh Allah. Allah Maha Pemelihara, Maha Penyokong dan Maha Memenuhi kebutuhan hamba.

Dengan dasar ini maka, para pejuang semestinya sudah tidak lagi memikirkan apakah ia akan diganjar dengan semua yang akan dikerjakan. Semua itu secara otomatis akan dipenuhi asalkan dilakukan dengan niat ikhlas dan sesuai dengan juklak dan juknis syariat-Nya.

Berjuang karena sudah tua, tidak punya apa-apa, atau terkucilkan dari komunitas itu bagus tapi biasa. Yang luar biasa ialah ketika usia masih muda, lagi meluap-luapnya, dan sedang mencari kesejatian hidup tapi tetap rela berjuang, berusaha melejitkan ketaatan dan berkorban, maka ini sungguh luar biasa.

Mana ada yang mau meninggalkan malam pengantinnya untuk menuju kematian. Bukankah kematian berarti meninggalkan pengantin; bukankah kematian berarti akhir dari kenikmatan pengantin?

Justru yang perlu digarisbawahi ialah hanya orang-orang yang memiliki keimanan yang tinggi yang mampu melakukannya. Orang beriman memandang bahwa dunia bukanlah akhir dari kenikmatan, bukanlah akhir dari kebahagiaan, bukanlah akhir dari segalanya. Dunia hanya permulaan jalan menuju kehidupan akhirat yang abadi.
Walau secara lahiriah, Handhalah bin Abi Amir terlihat tak untung karena lebih memilih kematian, akan tetapi dia sebenarnya telah mendapatkan kebahagiaan yang tak terkira dari segi keimanan.

Keimanan hakiki mengantarkannya pada keabadian; keimanan hakiki mengantarkannya pada cinta Rahman; keimanan sejati mengantarkannya sebagai pejuang Islam; keimanan sejati menjadikan kehidupannya bernilai dan penuh arti.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.