Uwais Al-Qarni Sang Penghuni Langit

0
354
Gambar : Ilustrasi (remisya.org)

Oleh : Syahidah

Uwais Al-Qarni, bernama lengkap Abu Amru Uwais bin Amir bin Jaza al-Qarni al-Muradi al-Yamani adalah seorang tabi’in asal Qarn (Qaran) telah hidup pada saat zaman Rasulullah dan wafat pada perang shiffin dihadapan Ali bin Abi Thalib.

            Mungkin beberapa dari pembaca sekalian merasa asing dengan beliau dan bahkan bertanya-tanya mengenai ‘siapakah?’ beliau sehingga kisahnya menarik untuk dijadikan teladan pada zaman ini. Ketahuilah, bahwasanya nama yang engkau kenal asing itu merupakan nama yang dikenal sebagai Penghuni langit, sebagaimana diriwayatkan Rasulullah, beliau bersabda, “Suatu ketika apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istigfarnya, dia adalah penduduk langit, bukan bumi”.

            Beliau merupakan seseorang yang memiliki banyak panggilan baik semasa hidupnya bahkan sampai hari ini, namun sebelum mengenalkan sosok beliau lebih jauh, alangkah lebih baik apabila kita mengulas kembali kisah-kisah dan teladannya, agar pengetahuan yang diperoleh dapat ditafsirkan akal diiringi dengan keyakinan.

            Uwais Al-Qarni, menurut penuturan dari kisah Harim bin Hayyam al-‘Abdi, memiliki ciri-ciri fisik yaitu lelaki tambun yang berkulit coklat, bahkan sangat coklat, (beberapa ada yang mengatakan bahwa ia memiliki penyakit kulit belang dan pada tangannya terdapat tanda berwarna putih), berkepala botak, berjenggot tebal. Kemudian beliau adalah seseorang yang menggunakan sarung dan juga sorban yang terbuat dari wol, sedangkan raut wajahnya dianggap menampakan kesan yang menjengkelkan.

            Dikisahkan bahwasanya, Uwais Al-Qarni adalah sosok yang sulit ditemukan keberadaannya, ia memilih menghabiskan semasa hidupnya dengan beribadah juga berbakti pada Ibunya. Maka dari itu, beliau acap kali disebut-sebut sebagai Orang gila, bahkan dalam buku yang berjudul, “Kitab kebijaksanaan orang-orang gila” karya Abu Al-Qasim An-Naisaburi, beliau disebut-sebut sebagai “– Orang Islam pertama yang dicap gila”.

            Salah satu dari perilaku yang dianggap gila oleh orang-orang pada zaman itu adalah pada saat ia yang dengan giat setiap hari menggendong dan memberi makan anak lembu ke atas bukit, hingga pada suatu waktu anak lembu tersebut tumbuh menjadi lembu yang gemuk dan sehat.

            Namun, apakah tujuan Uwais menggendong anak lembu tersebut? Diketahui maksud dan tujuan Uwais menggendong anak lembut tersebut hingga memiliki bobot yang besar adalah sebuah bentuk persiapan diri, ia tengah melatih otot pada tubuhnya sebab pada saat itu Ibunda daripada Uwais Al-Qarni memiliki keinginan menunaikan ibadah haji ke Mekah.

            Sedangkan, jarak antara Qarn (Yaman) menuju Mekah sangatlah jauh dan melelahkan, ditambah dengan kondisi Ibunya yang menderita lumpuh dan buta. Umumnya, orang biasa berpergian menggunakan unta serta membawa perbekalan yang banyak, sedangkan mereka bukanlah golongan yang berkecukupan.

            Maka dari itu Uwais Al-Qarni dan ibunya berangkat menuju Mekah dengan cara Uwais yang menggendong ibunya, melewati berkilometer jauhnya, panasnya cuaca, lapar dan haus selama diperjalanan. Begitu mulia Uwais Al-Qarni, bahkan sesampainya disana Uwais menangis tersedu sembari berdoa khusyu ; “Ya Allah, ampunilah dosa Ibuku”.

            Dari kisah ini, dapat kita ketahui bahwasanya Uwais Al-Qarni merupakan seseorang yang dapat diteladani perihal berbakti kepada orangtua.

            Lantas, terlintaskah dalam benak bagaimana Rasulullah dan para sahabat menanggapi sosok Uwais Al-Qarni?

            Diriwayatkan dari Hasan ra. Rasulullah saw bersabda, “Ada orang-orang yang jumlahnya lebih banyak dari Bani Rabi’ah dan Mudlar kelak akan masuk surga karena syafaat seorang laki-laki dari umatku. Maukah kalian aku beritahu nama lelaki itu?”

            Orang-orang kemudian menjawab, “Tentu saja wahai, Rasulullah!”

            Rasulullah saw, bersabda, “Lelaki itu adalah Uwais Al-Qarni!”

            Kemudian diketahui dalam kisahnya, Rasulullah saw bersabda kepada Umar apabila ia berjumpa dengan Uwais, maka sampaikanlah salam Rasulullah saw untuknya, ajaklah ia berbincang hingga ia mendoakanmu. Dan diketahui pula bahwasanya Uwais menderita penyakit kusta dan memohon doa kesembuhan pada Allah, lantas Allah mengangkat penyakitnya, namun kemudian ia berdoa kembali kepada Allah untuk dikembalikan penyakitnya, maka Allah kembalikan sebagian dari penyakitnya itu.

            Ketika Umar bin Khaththab menjabat sebagai khalifah, pada saat musim haji beliau berkata, “Mohon semua orang duduk, kecuali orang yang berasal dari Qaran”, semua orang duduk kecuali seorang lelaki, “Apakah anda mengenal seseorang bernama Uwais Al-Qarni?”

            Maka orang itu menjawab, “Apa yang anda inginkan darinya? Dia orang yang tidak dikenal, tinggal di rumah reot dan tidak bergaul dengan manusia”

            Umar berkata, “Sampaikan salamku kepadanya dan mintalah ia untuk menemuiku.”

            Pemuda tersebut kemudian menyampaikan pesan tersebut kepada Uwais, lantas datanglah Uwais menjumpai Umar.

            Umar kemudian menyampaikan salam Rasulullah saw kepada Uwais dan bertanya perihal penyakit kusta yang ia derita, Uwais terheran-heran sebab saat itu hanya ia dan Allah swt sajalah yang mengetahuinya. Maka Umar menjawab bahwasanya yang memberitahunya perihal kabar tersebut adalah Rasulullah saw dan kemudian ia diminta untuk memohon didoakan sebab menurut sabda Rasulullah ialah pria yang dapat memberi syafaat kepada orang-orang yang jumlahnya lebih dari Bani Rabi’ah dan Mudhar.

            Lantas Uwais mendoakan Umar dan berpesan kepadanya untuk merahasiakan kabar tentang dirinya, kemudian Umar mengabulkannya.

            Sesunggunya, perihal ekonomi Uwais Al-Qarni, Umar sudah pernah ingin memerintahkan pemerintah Yaman untuk memberikannya hidup yang layak, namun Uwais menolak dengan alasan, “Biarlah saya berjalan ditengah lalu lalang kerumunan tanpa diketahui banyak orang”.

            Maka sejak saat itu Uwais tetap tersembunyi dari umat manusia dan diketahui setelahnya ia berada di medan perang pada saat perang Shiffin dan wafat dihadapan Ali bin Abi Thalib dengan 40 luka dari sabetan pedang dan juga panah.

            Begitulah sepenggal kisah tentang Uwais Al-Qarni, ia yang disebut-sebut sebagai penduduk langit yang tinggal di bumi, ia yang dengan ikhlas melepas dunia dari genggaman tangannya, ia yang dengan sepenuh hidupnya berbakti kepada sang ibunda.

            Lewat kisah Uwais Al-Qarni, penulis teringat kembali pada salah satu bab dari amalan hati, yaitu ikhlas. Seorang saudara dan juga guru pernah bernasihat begini ;

            “Letakanlah urusan akhirat dalam jiwamu, seakan kamu akan mati hari ini, kemudian letakanlah urusan dunia pada genggaman tanganmu. Maka apabila duniamu direnggut, ia hanya akan hilang sebatas dalam genggaman saja”.

            Lantas diakhir tulisan ini, penulis ingin mengingatkan, bahwasanya segala yang ada di dunia hanyalah bersifat sementara. Waktu, Harta benda, dan bahkan Manusia. Sesungguhnya manusia adalah makhluk yang fana, namun dengan diturunkannya perintah beribadah pada-Nya dan menimba ilmu, disitulah letak kuliatas hidup manusia dapat ditingkatkan.

            Marilah kita membangun cinta atas akhirat, candu akan beribadah dan berlaku enggan terhadap sifat Wahn (Cinta Dunia), sadarilah bahwasanya waktu kita semakin dipersingkat untuk hidup di dunia, maka jangalah sekali-kali lalai terhadap kewajiban sebagai manusia, segala bentuk ibadah yang diajarkan, sesungguhnya bila diamalkan nikmatnya pun akan kembali pada kita sendiri. Ingatlah selalu bahwa di Akhirat kita kekal di dalamnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.