Bekal Seorang Da’iyah (Zaad Ad-Daa’iyah)

0
5613
Ilustrasi

Beritalangitan.com – Hukum amal dakwah adalah wajib syar’i, tidak gugur selagi tidak ada pemerintahan yang bertanggungjawab dalam mempraktekkan dan mempertahankan Islam, bahkan setelah adanya pemerintahan Islam pun dakwah masih wajib guna mempertahankan negara Islam. Adapun status kewajibannya adalah Fardu `ain, bukan kifayah. Karena itu seorang mukmin wajib melakukannya, jika tidak melakukannya akan berdosa, baik laki-laki maupun perempuan. Seperti yang disebutkan dalam firman Allah :

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (Q.S. At-taubah : 71)

Dapat dilihat keterpaduan kerjasama antara lelaki dan wanita dalam melakukan amal dakwah ke arah Islam dan penerapan hukum-hukumnya.

Penjelasan di atas menunjukkan bahwa wanita Islam mempunyai peranan istimewa dan memiliki kewajiban melakukan amal dakwah seperti halnya laki-laki. Bahkan dalam satu sisi peranan wanita dapat mengungguli peran laki-laki, terutama dalam bidang yang didominasi oleh kaum wanita. Ini kerena kaum wanita mempunyai beberapa keistimewaan tersendiri dari sudut kesediaan, kemampuan, sifat-sifat kepribadian, kejiwaan dan perasaan yang berbeda daripada kaum lelaki. Apalagi kalau kita lihat kondisi saat ini menunjukkan bahwa keterlibatan wanita dalam dakwah dan kerja-kerja kemasyarakatan amat penting, karena wanita adalah salah satu dari sumber kekuatan Islam.

Ummu ‘Atiyyah al-Ansariyyah umpamanya menjadikan rumahnya markaz dakwah dan menimba ilmu. Beliau begitu terkenal karena keaktifannya di dalam memberi nasihat dan menyampaikan ajaran Islam di kalangan pelbagai qabilah pada zaman Nabi s.a.w. Baliau pernah disiksa dan dipenjarakan. Namun semangatnya tidak patah.

Menurut Zainab al-Ghazali di dalam bukunya yang berjudul Ila Ibnati, keadaan umat masa kini sangat memerlukan kaum wanita memainkan peranan yang aktif di dalam dakwah. Ini disebabkan penjajah Barat mengeksploitasi wanita di dalam menabur benih-benih kejahatan dan keruntuhan nilai-nilai akhlak dan kemanusiaan. Wanita Islam yang kurang agamanya serta sedikit ilmunya akan terus menjadi alat propaganda syaitan di dalam menyebarkan kemungkaran melalui media massa, baik media cetak maupun media elektronik. Menurut penelitian beliau, wanita adalah orang yang memiliki peranan penting dalam menjalankan operasi dakwah di kalangan yang sejenis dengan mereka. Karena mereka lebih memahami tabiat, kedudukan dan permasalahan yang dihadapi oleh kaum mereka. Dengan itu mereka lebih berupaya masuk kedalam hati mad’u dengan pendekatan yang sesuai dan lebih serasi dengan fitrah mereka.

Dan dakwah tidak terbatas pada menyampaikan ceramah di masjid-masjid, memberi tazkirah di dalam liqa’at mingguan atau majlis-majlis ta’lim, namun dakwah yang mencakup pada usaha membentuk tingkah laku dan gaya hidup seseorang; membentuk manusia yang memiliki akhlak mulia, tutur kata yang baik, kasih sayang yang mendalam, persaudaraan yang jujur, kegigihan dalam bekerja, sabar ketika bencana, teguh dan setia menanggung suka dan derita.

Karena itu medan dakwah cukup luas, setiap orang bisa bahkan wajib memainkan peranan dalam berbagai medan dakwah, berusaha untuk bisa menyesuaikan diri, meningkatkan kemampuan, kesesuaian masa, tempat, kapasitas dan kemampuan yang dimiliki untuk kerja-kerja dakwah. Dan untuk menjadi da’iyah yang mumpuni, maka harus memiliki bekal yang memadai baik aqidah, ibadah, akhlak dan ilmu serta jihad dan hijrah, sehingga dengan bekal itu dapat menjadi penuntun dan penunjang kelancaran dan keberhasilan dakwah.

Adapun bekal yang harus dimiliki oleh seorang wanita (da’iyah) dalam berdakwah adalah sebagai berikut:

  1. Iman yang suci : Hati yang selalu terpaut dengan Allah

Seorang wanita muslimah adalah wanita yang beriman bahwa Allah SWT adalah Rabbnya, dan Muhammad Saw adalah nabi-Nya, serta Islam pedoman hidupnya. Dampak itu semua nampak jelas dalam perkataan, perbuatan, dan amalannya. Dia akan menjauhi apa-apa yang menyebabkan murka Allah, takut dengan siksa-Nya yang teramat pedih, dan tidak menyimpang dari aturan-Nya. Keimanan yang berbuah pada ketaatan kepada Allah SWT terhadap segala perintah dan larangan yang telah ditetapkan secara sunguh-sungguh. Ketaatan kepada Allah SWT akan menelurkan kasih dan cinta yang tidak ternilai di sisi manusia. Ketaatan dan cinta kepada Allah ini bukanlah mudah diperoleh sekirannya persediaan kearah itu disepelekan. Bagi seorang da’iyah harus memiliki bekal keimanan yang benar sehingga mampu menembus relung hati dan dapat diterima oleh mad’unya terhadap materi yang disampaikan olehnya.

  1. Ibadah yang Shahih: Segala Perbuatan yang Dicintai dan Diridhai Allah, Baik Dzahir dan Bathin.

Allah SWT berfirman :

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“Dan beribadahlah kepada Tuhanmu sampai mati mendatangimu,”(Al-Hijr:99).

Allah menciptakan manusia bukan untuk sia-sia, tetapi karena tujuan mulia yaitu untuk beribadah kepada-Nya. Ibadah adalah kata yang mencakup segala hal yang dicintai dan diridhoi Allah SWT. Kita menjalankan perintah Allah dan meninggalkan larangannya-Nya adalah ibadah. Kita berbuat kebaikan kepada sesama muslim bahkan sesama manusia atau kepada binatang sekalipun karena Allah adalah ibadah. Jadi Ibadah itu artinya luas bukan hanya ibadah mahdhoh (murni) saja seperti shalat, puasa, zakat dan haji, seperti dalam penjelasan Nabi saw bahwa cabang-cabang keimanan itu lebih dari enam puluh atau lebih dari tujuh puluh cabang. Paling utama adalah Lailaha illallah dan paling rendah adalah menyingkirkan duri di jalanan. Tapi ibadah itu tidak berarti positif dunia maupun akhirat sampai memenuhi dua kriteria:

  • Ibadah itu harus dilakukan dengan ikhlas karena Allah.
  • Ibadah itu harus dilakukan sesuai dengan petunjuk Rasulullah saw.

Satu syarat saja tidak diterima Allah, sampai betul memenuhi kedua persyaratan itu.

Allah SWT berfirman:

تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”(Al-Mulk : 2),

Dan Allah berfirman:

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Katakanlah: Sesungguhnya Aku Ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”. (Al-Kahfi : 110)

Salah satu sikap yang harus dimunculkan pada diri seorang muslim adalah sikap tunduk dan patuh serta taat kepada Allah, menjunjung tinggi perintah-Nya, menghormati aturan-aturan-Nya di atas segala-galanya sebagai wujud rasa kehambaan kepada-Nya. Maka langkah pertama menyampaikan kepada ketundukan dan totalitas yang sempurna adalah menanamkan iman kepada Allah SWT kedalam hati, menghujamkan keyakainan yang kuat kedalam sanubari. Bahwa Allah adalah pencipta manusia, Dia lebih tahu seluk beluk manusia, Dia Maha mengetahui apa yang baik bagi manusia dan apa yang tidak baik. Rasa iman ini harus dibuktikan melalui kesiapan mengemban kewajiban yang telah diwajibkan Allah kepada manusia berupa syariat Islam,serta melaksanakannya dengan tulus ikhlas

  1. Tilawah Al-Quran disertai tadabbur

Pada dasarnya Al-Quran diturunkan kepada Manusia memiliki dua fungsi, seperti yang disebutkan dalam firman Allah:

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran”. (Shad : 29)

  • Ditadabburkan, (dibaca dan difahami)
  • Dijadikan pelajaran (dihafal dan diamalkan)

Namun dalam kenyataannya kadang seorang manusia –saya, anda dan kita- jauh dari melakukan dua hal diatas, kecuali membaca dan membaca. Kurang dari melakukan interaksi yang baik terhadap Al-Quran yang menjadi sumber rujukan, hukum, petunjuk, dan pelita kehidupan baik dunia ataupun akhirat.

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ تَعَالَى يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

Rasulullah SAW bersabda : “Orang-orang yang berkumpul di masjid dan membaca Al Qur’an, maka kepada mereka Allah akan menurunkan ketenangan batin dan limpahan rahmat, dan dilindungi para malaikat serta Allah selalu memujinya pada siapa ada disisi-Nya’ (HR Muslim).

Sebagian orang mengartikan tadarus dengan membaca Al Qur’an secara patungan (secara bergiliran). Kendatipun ada manfaatnya seperti yang disebutkan dalam hadits :

عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ قَالَ : مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ فَلَهُ بِكُلِّ آيَةٍ عَشْرَ حَسَنَاتٍ، لاَ أَقُوْلُ الم عَشْرٌ ، وَلَكِنْ أَلِفْ ، وَلاَم ، وَمِيْم ثَلاَثُوْنَ حَسَنَةً

“Barangsiapa membaca satu huruf Al Qur’an, maka pahala untuknya sepuluh kali lipat kebaikan, saya tidak katakana alif lam mim huruf, namun alif, lam dan mim 30 kabaikan “(HR Tirmidzi).

Namun, membaca dalam konteks hadits di atas, tidak perlu diartikan secara harfiah. Ketenangan batin dan limpahan rahmat akan mungkin lebih bisa dicapai bila tadarusan diartikan dengan mempelajari, menelaah, dan menikmati Al Qur’an. Sudah saatnya kita tidak lagi mengandalkan “pengaruh psikologi magnetis” dalam membaca Al Qur’an (tanpa mengetahui maknanya). Karena bagi kita sudah saatnya untuk mendapatkan arti limpahan rahmat tersebut dari telaah kandungan isi Al Qur’an.

Bagi wanita shalihah tidaklah seperti yang dicontoh diatas, namun dirinya memahami betul akan kewajibannya terhadap Al-Quran, menjadikannya sebagai wirid harian dalam hidupnya, minimal dalam sebulan dapat menghatamkan Al-Quran satu kali.

  1. Do’a dan munajat

Wanita muslimah selalu mendekatkan diri kepada Allah dan hatinya selalu bergantung kepada-Nya, memohon doa dan bermunajat hanya kepada Allah. Do’a merupakan permohonan seorang hamba kepada Allah SWT dan merupakan ibadah yang sangat penting, sebagaimana Allah SWT berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan kuperkenankan bagimu, sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku (tidak mau berdo’a) akan masuk neraka jahanam dalam keadaan hina dina.” (Q.S. Al-Mu;min: 60)

Nabi saw juga bersabda:

الدُّعَاءُ مُخُّ العِبَادَةِ

“Do’a itu otak (inti) ibadah”

Dan wanita yang suka berdoa, memohon kepada Allah SWT menjadi pertanda kerendahan hatinya, pengakuan bahwa hanya Allah Yang Maha Kuasa dan Berkehendak, pemberi rizki, pemberi kehidupan dan hidayah serta berbagai kenikmatan lainnya, sedangkan dirinya adalah hamba yang lemah, yang mengharap petunjuk dan pertolongan dari-Nya. Oleh karena itu Allah menyebutkan somnong orang yang tidak mau berdoa kepada-Nya dan mengancamnya akan dimasukkan kedalam neraka jahannam dalamkeadaan hina dina.

Dan Doa wanita lebih makbul daripada lelaki karena sifat penyayangnya yang lebih kuat dari lelaki.

  1. Shodaqoh dan infaq

Sedekah yang paling utama adalah sedekah pada bulan Ramadhan (HR. Tirmidzi)

Wanita shalihah adalah wanita yang pandai menggunakan uangnya untuk kebaikan dan kemaslahatan yang panjang, terutama dengan selalu bersedekah dan berinfak di jalan Allah SWT.

Aisyah ra, ummul mukminin adalah sosok wanita yang dermawan dan suka bersedekah dari harta yang dimilikinya, pernah suatu ketika beliau diberi hadiah berupa uang sebesar 200 dinar (dalam riwayat lain 100 dinar), namun beliau segera menginfakkan seluruh uangnya di jalan Allah tanpa ada tersisa sedikitpun.

  1. Puasa sunnah

Wanita yang shalihah juga pandai membagi waktunya dalam beribadah, menjaganya agar tidak terbuang sia-sia, termasuk dengan berusaha melakukan ibadah puasa sunnah jika suaminya mengijinkannya. Karena puasa sunnah yang dilakukan oleh wanita shalihah harus meminta izin terlebih dahulu, apalagi jika suami sedang berada dirumahnya.

Puasa sunnah adalah puasa yang dikerjakan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, bukan diwajibkan tetapi hanya disunnahkan yang apabila dikerjakan mendapat pahala jika ditinggalkan tidak apa-apa.

Adapun yang termasuk puasa sunnah diantaranya :

  • Puasa sehari dan berbuka sehari. (atau yang dikenal dengan puasa sunnah nabi Daud) Maksudnya puasa yang diseling, sehari mengerjakan puasa dan sehari tidak, dikerjakan terus menerus.
  • Puasa pada awal bulan Dzulhijjah.Yaitu puasa dari tanggal satu sampai tanggal sembilan bulan dzulhijjah. Termasuk dalam hari tersebut adalah hari puasa Arafah tanggal 9 dzulhijjah yang mana ganjarannya sangat besar disisi Allah. Puasa hari Arafah.
  • Puasa Muharram.
  • Puasa hari ke 9 dan 10 bulan Muharram (Tasu’a dan Asyura).
  • Puasa pada hari senin dan Kamis.
  • Puasa tiga hari pada setiap bulan Qomariyah.
  • Puasa enam hari pada bulan Syawal.
  • Mencari rizki halal dan toyyib

Diantara ciri wanita shlihah adalah mencari rizki halal, baik dengan mencarinya melalui tangannya senduri atau dengan member wasiat kepada suaminya (jika sudah bersuami) untuk mencari rizki yang halal dan toyyib: Allah SWT berfirman “Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling makan harta kamu dengan tidak sah, kecuali dengan cara perdagangan atsa dasar suka sama suka. janganlah kamu membunuh (menghancurkan) diri sendiri, Allah sungguh Maha Pengasih kepada kamu. Dan barang siapa melakukannya dengan melanggar hukum dan tidak adil, akan Kami lemparkan ke dalam api neraka. Dan yang demikian bagi Allah mudah sekali” (An-Nisa: 29-30).

Ayat di atas hanya mengimbau orang-orang yang beriman. Mengapa tidak kepada semua orang? Karena Allah Maha Tahu, yang akan percaya merenungkan dan mengamalkan Alquran hanya orang yang beriman. Maka Hanya sekali-sekali saja Alquran mengimbau seluruh manusia.

“Janganlah kamu saling makan harta kamu dengan tidak sah”. Karena dalam perekonomian mustahil bisa berjalan sendiri, maka tiap pelaksanaan kegiatan ekonomi pada dasarnya dilakukan lebih dari satu orang atau membutuhkan banyak pihak, Pedagang membutuhkan pembeli dan begitu sebaliknya.

  1. Hijrah dan Jihad dijalan Allah

Hijrah merupakan sebuah kata kunci untuk memunculkan peradaban baru itu. Yang memindahkan masyarakat yang didera berbagai kesulitan, serba kekurangan, yang belum dapat memunculkan kejayaan Islam dan peradaban Islam ke sebuah kawasan baru, pendukung baru, kesituasi baru dimana Islam bisa dimunculkan, diperjuangkan, dimenangkan dan disebarluaskan bahkan menjadi agama abadi yang rahmatan lil alamin.

Hijrah merupakan sebuah ungkapan yang memindahkan dari periode Mekah ke periode Medinah, dari periode Mekah yang ungkapannya adalah sekedar’Wahai umat manusia’ pada periode Madinah yang ungkapannya ’Wahai orang-orang yang beriman’. Disini hijrah membawa sebuah peningkatan kualitas kemanusiaan dari sekedar manusia Menjadi manusia yang beriman.

Hijrah juga membawa sebuah perubahan dari sekedar masyarakat yang diam menjadi masyarakat yang berpindah menuju munculnya sebuah peradaban. Itulah sebabnya hijrah Rasulullah berhasil merubah sebuah kota yang namanya Yatsrib menjadi namanya Al Madinah bahkan menjadi Al Madinah al Munawaroh yaitu sebuah kota yang memiliki peradaban yang dicerahkan oleh nilai-nilai Islam.

Dari pemahaman hijrah dapat difahami akan manfaat hijrah dalam kehidupan umat manusia, termasuk wanita muslimah, yaitu berusaha menjauhkan diri dari kemaksiatan menuju rahmat Allah, dari murka menuju ridha-Nya, dan bersungguh-sungguh (bermujahadah) untuk menjadikan landasan hidup dalam segala aktivitasnya sehari-hari.

  1. Membekali diri dengan ilmu yang bermanfaat

Ilmu merupakan perhiasan tak ternilai bagi muslimah.

Petunjuk Allah SWT dan Rasul-Nya Saw ini tidak mungkin dapat diketahui tanpa menuntut ilmu syar’i. Karena itulah, Allah dan Rasul-Nya memerintahkan setiap Muslim dan Muslimah yang baligh dan berakal (mukallaf) untuk menuntut ilmu. Dalam sebuah hadits dari Anas bin Malik ra, Rasulullah Saw bersabda: “Menuntut ilmu wajib bagi setiap Muslim.” (HR. Ahmad)

Imam Ahmad rahimahullah mengatakan bahwa ilmu yang wajib dituntut di sini adalah ilmu yang dapat menegakkan agama seseorang, seperti dalam perkara shalatnya, puasanya, dan semisalnya. Dan segala sesuatu yang wajib diamalkan manusia maka wajib pula mengilmuinya, seperti pokok-pokok keimanan, syariat Islam, perkara-perkara haram yang harus dijauhi, perkara muamalah, dan segala yang dapat menyempurnakan kewajibannya.
Sebagai hamba Allah, seorang Muslimah wajib mengenal Rabbnya yang meliputi pengetahuan terhadap nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan Allah SWT sebagaimana diberitakan dalam Al Qur’an dan hadits-hadits yang shahih. Selain itu, ia harus mengetahui bahwa Allah SWT bersendiri dalam Mencipta, Mengatur, Memiliki, dan Memberi Rezeki. Ia pun wajib menunaikan hak-hak Allah, yaitu beribadah hanya kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun, sebagaimana tujuan penciptaannya. Allah berfirman:

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” (QS.Adz Dzariyat: 56)

Seseorang tidak akan berada di atas hakikat agamanya sebelum ia berilmu atau mengenal Allah Ta’ala. Pengenalan ini tidak akan terjadi kecuali dengan menuntut ilmu Dien (Agama Islam).

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al Mujadilah: 11)

(Nf)

Sumber : http://tarbawiyah.com/2015/06/21/bekal-seorang-daiyah-zaad-ad-daaiyah/

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.