Bunda, Jadikanlah Rumahmu Sebagai Madrasah Syuhada

0
794

Ditulis ulang oleh: Zuqi Ali

Dalam sebuah hadist yang sangat terkenal, Rosulullah SAW menyebutkan bahwa diantara penyebab gagalnya sebuah kaum atau generasi adalah terbetiknya dalam hati mereka cinta dunia dan takut mati.

Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah SAW bersabda,

“Hampir saja ummat-ummat saling memanggil (menyerang) menuju kalian sebagaimana orang-orang yang mau makan saling memanggil kepada nampannya”. Ada yang bertanya, “Apakah karena kita sedikit saat itu?” Beliau bersabda, “Bahkan kalian saat itu banyak, tapi kalian buih laksana buih ombak. Allah benar-benar akan mencabut perasaan segan terhadap kalian dari dada musuh kalian; Allah akan mencampakkan kelemahan dalam hati kalian”. Ada yang bertanya, “Apa kelemahan itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia, dan takut mati”. [HR. Abu Dawud dalam Kitab Al-Malahim (4297). Di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (958)].

“seorang bunda adalah sosok yang terdekat di hadapan putra dan putrinya, sehingga hal itu menjadi sebuah peluang terindah untuk menjadikan putra dan putri kita menjadi generasi penerus para mujahidin dan pemegang tongkat estafeta perjuangan dakwah Islam”

Hidup di zaman fitnah seperti ini, dimana jeratan setan dan berbagai ragam tipu dayanya, seakan-akan telah nyata dalam kehidupan. Tentu saja sebagai seorang Muslimah yang berperan sebagai seorang ibu sangatlah wajib untuk membentengi putra dan putrinya dari setiap kejelekan yang ada, atau kelak akan melihat anak yang kita besarkan justru terjerumus dalam lingkaran sistem dajjal la’natullah alaihi. Naudzubilah.

Peran seorang bunda dalam tarbiyatul aulad memang sangat berpengaruh. Pasalnya, seorang bunda adalah sosok yang terdekat di hadapan putra dan putrinya, sehingga hal itu menjadi sebuah peluang terindah untuk menjadikan putra dan putri kita menjadi generasi penerus para mujahidin dan pemegang tongkat estafeta perjuangan dakwah Islam.

Korban Salah Didik Orang Tua yang tidak tahu tentang Syariah Islam

Bila kita jeli mengamati, menjalarnya penyait itu, salah satu sebabnya adalah pendidikan orang tua yang salah. Sejak kecil orang tua sekarang telah memacu anak-anaknya untuk mencari kesenangan dunia. Anak-anak sejak kecil selalu diidolakan dengan saudaranya, keluarganya atau siapa saja yang berhasil secara duniawi.

Cita-cita yang selalu dibanggakan seperti jadi artis, dokter,insinyur,dosen hingga pengusaha semua itu dicari agar hidup mereka bergelimang harta dunia,tak peduli pengamalan mereka terhadap ajaran Islam seperti apa. Kehidupan seseorang dikatakan berhasil jika memiliki kekuasaan tinggi, harta yang banyak, dan istri atau suami yang rupawan.

Itulah bentuk dari kebodohan orang tua yang jauh dari syariah Islam, sehingga anak terus dipacu untuk sukses dalam masalah duniawi saja, tetapi lupa akan kewajiban seorang hamba untuk taat kepada Rabb-Nya. Naudzubillah.

Mereka habiskan umur,waktu dan hartanya untuk sekolah mencari ilmu duniawi dengan harapan kelak bisa menjadi sarana mendapatkan kekayaan dan jabatan Padahal Rosululloh SAW bersabda:

“Barang siapa mencari ilmu bukan karena Allah atau ada yang di cari selain Allah, maka tempat duduknya di neraka” (HR Tirmidzi-Abu Dawud).

Akhirnya kecintaan mereka akan dunia melebihi kecintaan mereka terhadap Allah dan Rosul-Nya, jangankan memikirkan permasalahan Islam, kenal dan faham pun tidak,karena mereka telah tenggelam oleh kekayaan dunia.

Padahal Allah SWT telah berfirman:

“Katakanlah (wahai Muhammad), jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri (atau suami-suami) dan kaum keluarga kelian, juga harta yang kalian usahakan dan perniagaan yang kalian khawatirkan kerugiannya, dan rumah tempat tinggal yang kalian sukai adalah lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah hingga Allah mendatangkan keputusan-Nya (azab)-Nya. Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang fasik (derhaka).” (QS at-Taubah : 24).

Belajar dari Madrasah Nabawiyyah

Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Sebaik-baik manusia adalah zamanku, dan kemudian setelahnya, dan kemudian setelahnya.” (HR. Bukhari No. 2509, 3451, 6065, 6282. Muslim No. 2533. At Tirmidzi No. 2320, dari Imran bin Al Hushain).

Berkata Syaikh Abdurrahman Al Mubarakfuri:

“Sabdanya: Sebaik-baik manusia adalah zamanku, yaitu yang hidup pada zamanku. Berkata Al Hafizh (Ibnu Hajar), yang dimaksud pada zaman Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits ini adalah sahabat nabi.” (Syaikh Abdurrahman Al Mubarakfuri, Tuhfah Al Ahwadzi, 6/469. Al Maktabah As Salafiyah. Madinah Al Munawarah)

Maka para ulama telah mengabadikan dalam kitab sejarahnya, bagaimana cemerlangnya keimanan mereka, mulianya akhlaq mereka, cerdasnya keilmuan mereka sehingga patutlah setiap keluarga muslimin kembali membulatkan tekat untuk mencontoh serta mengikuti apa yang telah dilaksanakan Rosululloh dan sahabat.

Lihat bagaimana Rosululloh mendidik para sahabatnya, dimana Al Quran menjadi pedoman dalam hidup dan sabda Nabi menjadi panutan. Akhirnya, lahirlah generasi gemilang yang menaklukan dunia dengan izin Allah dan menyebarkan Islam hingga ke seluruh pelosok dunia.

Ali bin Abu Tholib karamallahu wajhah, adalah sosok remaja yang cerdas dan alim sehingga keberaniannya dalam membela Rosululloh tak diragukan lagi.Ali siap untuk mengganti posisi Rosulullah di tempat tidur Rosulullah, padahal saat itu rumah telah di kepung pasukan kafir Quraisy untuk ditangkap dan di bunuh. Kita juga telah mendengar kisah heroik Muadzain (dua Muadz) yang andil dalam perang badar dan aksi mereka menggemparkan dunia saat itu karena anak kecil itu berhasil membunuh pentolan musyrikin Quraisy, si Abu Jahal.

“Lihatlah bagaimana shohabiyah Khansa yang justru bahagia di saat para putranya telah menjemput syahid. Bagaimana Ibnu Umar dan Ibnu Abbas yang mempunyai semangat yang sangat luar biasa dalam mencari ilmu, sehingga mereka menjadi ulama di kalangan sahabat dan tabi’in”

Lihatlah bagaimana shohabiyah Khansa yang justru bahagia di saat para putranya telah menjemput syahid. Bagaimana Ibnu Umar dan Ibnu Abbas yang mempunyai semangat yang sangat luar biasa dalam mencari ilmu, sehingga mereka menjadi ulama di kalangan sahabat dan tabi’in.

Di masa sekarang ini, kita melihat bagaimana anak-anak Palestina di Gaza dengan beraninya menghadang tank-tank tentara Israel, hal seperti itu bukan satu dua anak secara kebetulan, akan tetapi merata hampir semua. Sungguh mereka terbentuk karena para ibu-ibu mereka memahamkan betul arti jihad dan Islam dalam kehidupan.

Kita akan bertemu anak-anak balita yang telah hafal Al Quran di Suriah, kita akan mendapatkan para remaja yang berbondong-bond0ng belajar menghafal kitab Shohih Bukhari di Yaman, dan masih banyak lagi. Semua itu bukanlah hal yang tidak disengaja, akan tetapi orang tua mereka sudah memahamkan betul arti pentingnya ilmu AlQuran dan akhlakul karimah, sehingga kelak mereka menjadi mujahid dalam perjuangan Islam demi izzatul islam wal muslimin.

“Didiklah putra dan putrimu denganAl Quran dengan sunah Nabi, dan kenalkan dia dengan orang-orang sholeh agar kelak mereka menjadi mujahid dan syahid di jalan Allah”

Pertanyaanya, apakah kita tidak merindukan anak kita kelak menjadi penghafal Al Quran? Tidakkah kita mendambakan anak kita mengajarkan ilmu hadist kepada teman sepantarannya? Tidakah kita bangga bila anak kita menjadi pembela kehormatan islam ,melawan para musuh Allah.

Sungguh untuk mendapatkan itu semua membutuhkan pengorbanan yang tak mudah dan keikhlasan yang tulus. Makacarilah ilmu dan pengetahuan wahai para ibunda.

Didiklah putra dan putrimu dengan Al Quran dengan sunah Nabi, dan kenalkan dia dengan orang-orang sholeh agar kelak mereka menjadi pembela Allah dan syahid di jalan Allah. Insya Allah.

Kontributor beritalangitan.com batam/kepri

Sumber: voa-islam.com 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.