Feminisme Mengancam Intelektual Muslimah?

0
783
Ilustrasi

Oleh: Iis Nawati, Aktivis Kalam UPI, iis.nawati2301@gmail.com

Beritalangitan.com – Feminisme memang telah menjadi perbincangan dunia, bukan hanya dalam dunia barat saja sebagai cikal bakal lahirnya paham ini, feminisme pun sudah melibatkan negeri-negeri mayoritas muslim. Sekilas bagi siapapun yang memerhatikan ide ini, mungkin beranggapan bahwa ide ini adalah ide pembaharuan untuk menyelamatkan kaum perempuan dari segala bentuk ketertindasan oleh dunia dan beranggapan bahwa feminismelah yang telah berjasa secara penuh hingga saat ini perempuan tidak dipandang sebelah mata. Namun, benarkah demikian?

Disadari atau tidak feminisme saat ini telah masuk dalam dunia perkuliahan. Ide ini perlahan namun pasti telah menjadi standar berpikir para intelektual terkhusus perempuan ketika ia memandang kehidupannya. Hal ini ditandai dengan bergesernya orientasi output-output yang ingin dihasilkan dunia kampus, dimana dunia kampus kini begitu ambisius melahirkan output-output yang berdaya guna yang siap mengisi dunia kerja dan mampu bersaing dengan dunia global, hal ini terlihat dengan banyaknya jurusan-jurusan yang ditutup dan jurusan-jurusan yang dibuka untuk memenuhi permintaan pasar. Alhasil dunia pendidikan beralih menjadi mesin-mesin pencetak untuk memenuhi dunia pasar global yang diinginkan.

Lalu bagaimana dengan lulusannya? Hal ini pun sama dialami oleh para kaum intelektual teruma intelektual muslimah. Secara tidak sadar, karena desakan ekonomi, biaya pendidikan yang mahal, didikan kurikulum akhirnya para kaum intelektual muslimah mengubah arah orientasinya. Mereka tidak kalah bersemangatnya dengan kaum laki-laki untuk mengisi dunia kerja, mengisi perusahaan-perusahaan besar dan begitu ambisius untuk menjadi wanita karir. Alhasil persaingan dunia global semakin ketat, bukan hanya bersaing dari segi intelektual namun kini bersaing dari segi gender.

Apa yang salah jika output-output pendidikan menghasilkan intelektual-intelektual produktif yang mampu bersaing dengan dunia global? Permasalahan utama yang muncul adalah terjadi ketimpangan peran antara kaum laki-laki dan perempuan, yang paling mengkhawatirkan adalah hilangnya peran perempuan dalam menopang suatu peradaban karena saat ini perempuan justru begitu ambisius untuk “berebut lahan” dengan kaum laki-laki, mengejar karir dan melupakan perannya sebagai calon/seorang ibu yang bertugas mencetak dan mendidik generasi.

Tentu dalam hal ini yang perlu kita soroti adalah bagaimana feminisme secara tidak sadar telah merasuk pada pemikiran intelektual-intelektual muslimah masa kini. Opini bahwa feminisme mampu menyelematkan kaum perempuan dari ketertindasan merupakan opini yang sangat menyesatkan. Pada faktanya, sekalipun akhirnya saat ini kiprah perempuan telah diakui dalam berbagai bidang tapi justru ada ancaman besar yang menghantui negeri ini. Ketika perempuan lebih mementingkan “dunia luar” namun mengabaikan perannya sebagai seorang ibu maka betapa tingginya angka perceraian, betapa banyak anak-anak yang akhirnya menjadi korban broken home, anak-anak terlibat tawuran, seks bebas hingga pada tingkat kecanduan narkoba. Tak bisa dipungkiri hancurnya generasi ini berawal dari hancurnya keluarga.

Lantas apa yang harus kita lakukan? Sebagai seorang muslim haruslah kita menyadari bahwa Islam mampu menjawab berbagai bentuk permasalahan manusia, karena pada dasarnya Islam tidak hanya memuat aturan-aturan ibadah ritual saja, namun Islam merupakan sistem kehidupan yang sempurna yang mampu memecahkan segala bentuk permasalahan manusia. Tentu sebagai intelektual muslim menjadi lulusan yang berkualitas menjadi hal yang utama. Bahkan Islam begitu memuliakan orang-orang yang berilmu beberapa derajat (lihat Q.S. Al-Mujadilah:11).

Pertama yang harus disadari terlebih dahulu oleh seorang intelektual muslim (hal ini adalah perempuan) bahwa paham feminisme tidak diperlukan bahkan sangat bertentangan dengan Islam. Karena sejak awal Islam telah memuliakan kaum perempuan, banyak nash-nash yang menyebutkan betapa mulianya kedudukan perempuan, betapa penting dan strategisnya peran perempuan sebagai pencetak dan pendidik generasi. Bahkan sudah banyak nash-nash pula yang menyebutkan betapa besarnya pahala yang Allah berikan ketika seorang perempuan mendedikasikan hidupnya sebagai seorang manager rumah tangga dan pendidik generasi (hal ini adalah anak-anaknya).

Kedua, adalah pembenahan dari segi sistem dan paradigma pendidikan. Islam telah menetapkan bahwa qimah (nilai) menuntut ilmu adalah beribadah kepada Allah swt bukan berdasarkan asas manfaat yang saat ini begitu digembar-gemborkan. Islam tidak menjadikan pasar sebagai standar orientasi dari hasil pendidikan, tetapi ada tiga tujuan utama yang dicanangkan dalam pendidikan Islam diantaranya: (1) menghasilkan lulusan yang bershakshiyah (berkepribadian) Islam, (2) menghasilkan lulusan yang memahami tsaqofah-tsaqofah Islam, (3) menghasilkan lulusan yang mumpuni dalam ilmu keduniaan/praktis. Maka dalam hal ini, tentu tidaklah masalah ketika seorang intelektual muslimah mampu berkiprah dalam dunia publik tetapi dengan tidak menghilangkan perannya sebagai ummu warabatul bait sang manager rumah tangga dan pendidik generasi. Karena Islam secara jelas telah membagi peran laki-laki dan perempuan secara adil dan sempurna sehingga terciptalah kehidupan yang harmonis dan saling menopang dalam membangun peradaban. Islam menempatkan laki-laki sebagai pemimpin dan membebankan kewajiban untuk mencari nafkah, sedangkan perempuan sebagai pengatur rumah tangga dan pendidik anak-anaknya. Maka ketika peran ini diletakkan pada wazan yang sangat tepat maka akan mampu berdiri kokoh peradaban tersebut. Minimnya angka perceraian, generasi-generasi muda terselamatkan karena ia mampu dididik sejak awal dari sebuah keluarga yang sangat harmonis.

Ketiga adalah memahami bahwa perkara-perkara diatas akan mampu kita wujudkan memang hanya dalam sistem pemerintahan Islam, yaitu penerapan Islam dalam seluruh aspek kehidupan dalam sistem Khilafah. Kenapa harus Khilafah dan apa kepentingannya kita menerapkan ini? Karena Khilafah adalah satu-satunya institusi negara yang dicontohkan oleh Rasulullah saw dan para sahabat dalam menerapkan Islam bukan sistem demokrasi seperti saat ini dan Khilafahlah satu-satunya institusi yang mampu menerapkan Islam dalam kehidupan. Selain itu penerapan Khilafah adalah bentuk kewajiban yang harus dilaksanakan oleh seluruh kaum muslim, begitu banyak hukum-hukum Allah yang terabaikan karena Islam tidak lagi diterapkan dalam sistem kehidupan. Maka menjadi sebuah kepentingan dan kewajiban bagi seorang kaum intelektual untuk bersama-sama bergerak dan berjuang untuk mengembalikan kehidupan Islam. (yaya)

Sumber : islampos

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.