Hubungan Pria dan Wanita pada Masa Arab Jahiliyah

0
1564

Beritalangitan.com – Apapun juga pendapat orang tentang peradaban tanah arab serta daerah pedalamannya, namun sudahkah kota kota seperti mekah dan sekitarnya mempunyai peradaban yang tidak dikenal oleh daerah pedalaman, ataukah juga ia masih berada pada tingkat permulaan?

Pada dasarnya hubungan pria dan wanita dalam masyarakat arab itu seluruhnya berdasarkan bukti bukti qur’an serta peninggalan peninggalan sejarah pada masa itu tidak lebih adalah suatu hubungan jantan dengan betina, dengan sedikit perbedaab sesuai dengan tingkat – tingkat kelompok dan golongan – golongan kabilah masing – masing, yang pada umumnya tidak jauh dari cara hidup yang masih mirip – mirip dengan tingkatan manusia terbelakang.

Dalam hal ini kaum wanitanya pada zaman jahiliyah yang mula mula mempertontonkan diri, memamerkan kecantikannya dengan berbagai bagai perhiasan yang bukan lagi terbatas hanya pada suaminya. Mereka pergi keluar sendiri – sendiri atau beramai – ramai untuk keperluan yang mereka adakan di tengah – tengan padang sahara. Ditempat ini pemuda – pemuda dan pria lainnya menyambut mereka, dan mereka dipertemukan dengan kelompoknya masing – masing. Kedua belah pihak mereka sudah tidak perduli lagi, saling bertukar pandangan, saling bercumbu dengan kata kata yang manis manis, yang membuat si jantan jadi senang dan sibetina jadi tentram. Sudah begitu melekatnya cara hubungan demikian itu dalam hati mereka, sehingga Hindun ini Abu Sufyan tidak segan – segan lagi mengatakan, ditengah tengan peristiwa yang sangat genting dan gawat dalam perang uhud, tatkala ia membakar semangat pasukan quraisy :

Kamu maju kami peluk 

Dan kami hamparkan kasur yang empuk 

Atau kamu mundur kita berpisah 

Berpisah tanpa cinta. 

Pada beberapa kabilah masa itu masalah zina bukanlah suatu kejahatan yang patut mendapat perhatian. Masalah cumbu – cumbuan sudah merupakan salah satu kebiasaan semua orang. Sumber – sumber sejarah menyebutkan peristiwa – peristiwa percintaan yang dilakukan hindun itu dengan mengingat kedudukan Abu Sufyan yang begitu kuat dan penting tidak sampai mengubah kedudukan wanita itu, baik dikalangan masyarakatnya maupun ditengah – tengah keluarganya. Bila ada wanita yang melahirkan anak dan tidak diketahui siapa bapak anak itu, tidak segan – segan ia akan menyebutkan laki – laki mana yang telah menjamahnya untuk kemudian menghubungkan anaknya kepada orang yang dianggapnya paling mirip. Naudzubillah…

Seorang orang arab suka sekali pada waktu yang terluang dan diisinya dengan bercumbu, imajinasi mereka biasanya subur sekali terbawa oleh cara hidupnya dibawah langit terbuka serta pengembaraannya dalam mencari rezeki. Ia didorong oleh cara yang berlebih – lebihan, dan kadang berdusta dalam soal – soal perdagangan.dalam hal ini khayalnya bertambah subur, baik di waktu damai maupun waktu perang. Lalu bagaimana dengan zaman kita sekarang ini ?

Sumber kepustakaan : Muhammad Husain Haikal, Sejarah Hidup Muhammad, Litera AntarNusa 1993

( Begawan)

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.