Hukum Shalat Berjamaah Bagi Wanita

0
863
Ilustrasi

Beritalangitan.com – Dari Ibn Umar r.a., bahwasanya Rasulullah Saw bersabda,  “Shalat berjamaah itu adalah lebih utama duapuluh tujuh derajat dibanding shalat sendiri.”  (Hadis Muttafaqun Alaih)

Berdasarkan hadits di atas, baik laki-laki maupun perempuan akan memperoleh pahala yang sama apabila melaksanakan shalat berjamaah. Karena itu, hukum shalat berjamaah bagi wanita adalah diperbolehkan. Bahkan, menurut Syekh Yusuf Al Qaradhawi, hukumnya sunnah.

Hal ini diperkuat oleh kebiasaan wanita pada masa Nabi yang juga sering shalat berjamaah di masjid. Dari Asiyah ra ia berkata bahwa Rasulullah Saw. memanggil beliau (dengan berkata), “Telah tertidur para wanita dan anak anak.” Maka keluarlah Nabi Saw. lalu berkata, “Tidak ada seorangpun selain kalian dari penduduk bumi yang menanti shalat ini.” (HR. Bukhari dalam kitab Mawaqit Ash Shalah 564 dan Muslim kitab Al Masajid 2/282)

Riwayat lain dari Aisyah ra mengabarkan, “Mereka wanita-wanita Mukminah menghadiri shalat Shubuh bersama Rasulullah Saw. dalam keadaan berselimut dengan kain-kain mereka. Kemudian para wanita itu kembali ke rumah rumah mereka hingga mereka (selesai) menunaikan shalat tanpa ada seorangpun yang mengenali mereka karena masih gelap.” (HR. Bukhari 578)

Dari Abi Qatadah Al Anshari ra. bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya aku berdiri untuk menunaikan shalat dan berkeinginan untuk memanjangkan shalat itu. Lalu aku mendengar tangisan bayi maka akupun memendekkan shalatku karena khawatir (tidak suka) memberatkan ibunya.” (HR. Bukhari 868, Abu Daud 789).

Beliau Saw. juga bersabda, “Jangan kalian mencegah hamba-hamba perempuan Allah dari shalat di masjid-masjid-Nya.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 990 dan Muslim no. 442)

Didalam lafazh lainnya disebutkan,”Apabila para wanita kalian meminta izin kepada kalian pada waktu malam hari untuk ke masjid maka izinkanlah mereka.” (HR. Jama’ah kecuali Ibnu Majah) yaitu jika aman dari kerusakan (fitnah).

Juga sabdanya Saw,”Janganlah kamu melarang para wanita pergi ke masjid, hendaklah mereka keluar tanpa memakai wangi-wangian.” (HR. Ahmad, Abu daud dari Abu Hurairoh) dan Al-Imam An-Nawawi rahimahullah menyatakan, “Telah berkata teman-teman kami bahwa hukum shalat berjamaah bagi wanita tidaklah fardhu ‘ain tidak pula fardhu kifayah, akan tetapi hanya mustahab (sunnah) saja bagi mereka.” (Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, 4/188)

Berdasarkan hadits-hadits di atas, mayoritas ulama (ulama Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah) bersepakat bahwa wanita diperbolehkan untuk shalat berjamaah di masjid. Ini adalah pendapat yang paling rajih (kuat).

Namun, ada syaratnya, seperti harus dapat izin dari suami (jika sudah menikah) kecuali yang sudah tua, tidak meninggalkan kewajibannya sebagai istri (misalnya mengasuh anak, menyiapkan  makanan untuk keluarga dll), tidak memakai wewangian yang terlalu mencolok sehingga mengundang perhatian kaum lelaki, tidak tabarruj (menghias diri berlebihan), dan tidak ikhtilat (bercampur antara laki-laki dan perempuan).

Lalu lebih utama mana antara shalat berjamaah di masjid atau shalat sendiri di rumah?Sebagian ulama berpendapat bahwa shalatnya wanita di rumah itu lebih utama dibandingkan shalat berjamaah di masjid. Hal itu dilakukan untuk menghindari terjadinya fitnah. Mereka merujuk pada hadits Nabi yang berbunyi, “Janganlah kamu larang isteri-isterimu (pergi shalat ke) masjid, namun (shalat) di rumah mereka lebih baik.” (Hadits Shahih Ibnu Khuzaimah).

Hadits dari Ummu Salamah bahwa Rasulullah Saw. bersabda, ”Sebaik-baik masjid bagi kaum wanita adalah didalam rumahnya.” (HR. Ahmad)

Ibnu Qudamah rahimahullah juga mengisyaratkan tidak wajibnya shalat jamaah bagi wanita dan beliau menekankan bahwa shalatnya wanita di rumahnya lebih baik dan lebih utama. (Al-Mughni, 2/18)

Dalam Nailul Authar, Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata setelah membawakan hadits di atas: “Yakni shalat mereka di rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka daripada shalat mereka di masjid-masjid, seandainya mereka mengetahui yang demikian itu. Akan tetapi mereka tidak mengetahuinya sehingga meminta ijin untuk keluar berjamaah di masjid, dengan keyakinan pahala yang akan mereka peroleh dengan shalat di masjid lebih besar. Shalat mereka di rumah lebih utama karena aman dari fitnah, yang menekankan alasan ini adalah ucapan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ketika melihat para wanita keluar ke masjid dengan tabarruj dan bersolek.” (Nailul Authar, 3/168)

Ada catatan menarik dari Imam Asy-Syaukani di atas, yaitu bila wanita itu suka tabarruj dan bersolek, maka shalat di rumah lebih utama dibandingkan shalat berjamaah di masjid.

Kesimpulannyakaum wanita boleh saja shalat berjamaah di masjid. Bahkan, menurut Imam Nawawi dan Syekh Yusuf Al Qaradhawi adalah sunnah. Namun, bagi wanita yang cantik dan menarik, sebagian ulama menyarankan agar sebaiknya shalat di rumah saja untuk menghindari fitnah. Wallahu a’lam bil-shawab! Eep Khunaefi berbagai sumber. (St)

Sumber : muslimah.co.id

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.