Khaulah binti Al Azwar, Sang Bidadari Besi

0
180

Banyak anggapan bahwa wanita adalah makhluk yang lemah dan terbatas dalam melakukan kegiatan fisik ketimbang laki laki. Pendapat ini tidak sepenuhnya salah, karena memang kodrat wanita menjadi makhluk yang penuh kelembutan, dilindung dan melindungi. Penuh kasih sayang dan membawa perasaannya pada kebaikan. Jauh sekali dalam benak kita bahwa seorang wanita mampu turut serta dalam kancah peperangan dan melakukan aksi heroik yang biasanya hanya dilakukan oleh kaum adam. Namun itu semua bukanlah hal yang tidak mungkin.
Ialah Khaulah binti Al Azwar, keberaniannya turun langsung ke medan perang merupakan contoh bahwa pada situasi tertentu seorang muslimah bisa saja turun langsung ke medan perang dan membela agamanya. Hingga ‘Wanita Pedang Allah’, ‘Bidadari Besi’ atau ‘Faritsul Mulatsam’ seringkali menjadi julukan baginya.
Alkisah, di suatu peperangan yang dipimpin oleh Khalid bin Walid. Saudaranya, Dhirar bin Azwar tertawan oleh pasukan Romawi. Khalid bin Walid dan segenap pasukan muslimin pun berusaha untuk memenangkan pertarungan yang berlangsung sengit. Di tengah peperangan yang menggebu, muncullah seorang penunggang kuda yang begitu tangguh di atas kudanya. Ia merangsek maju dengan tombak di tangannya. Ia mengenakan pakaian yang menutupi sekujur tubuhnya dan hanya matanya yang terlihat. Prajurit penuggang kuda ini bertempur dengan sangat berani dan tangguh. Banyak kaum muslimin kagum dengan kemampuan bertarungnya. Ia memporak-porandakan barisan kaum Romawi. Dan membangkitkan lagi semangat kaum muslimin.
Timbul pertanyaan dalam benak kaum muslimin yang menyaksikan prajurit berkuda itu. Rafi’ bin Umairoh pun berpikiran bahwa itu adalah Khalid bin Walid sang pedang Allah. Namun dari pembawaannya ia ragu bahwa itu adalah Khalid bin Walid. Nyatanya ia bukanlah Khalid bin Walid. Khalid bin Walid yang turut menyaksikan keberanian sang prajurit merasa kagum dan berseru agar kaum muslimin membantunya. “Wahai kaum muslimin, satukan semua bala tentara dan bantulah penunggang kuda yang mempertahankan agama Allah!”, seru Khalid bin Walid kepada seluruh kaum muslimin.

Maka bergeraklah seluruh pasukan bersama panglima Khalid bin Walid ke dalam pertempuran dan berakhir dengan sebuah kemenangan. Usai peperangan, rasa penasaran masih menyelimuti benak kaum muslimin. Siapakah gerangan yang ada di balik pakaian yang tertutup itu? Sang prajurit yang gagah dan berani. Khalid bin Walid pun mendekatinya dan bertanya, ”Engkau yang selama ini membuat kami penasaran dan heran. Aku ingin engkau membuka kain yang menutupi wajahmu dan beritahulah kepada kami tentang kamu sebenarnya!”

Khaulah pun terdiam dan menjawab perlahan, “Wahai pimpinan kami, sesungguhnya alasan aku tidak mau memperlihatkan diriku kepadamu karena aku malu kepadamu. Engkau adalah seorang pimpinan yang agung, sementara aku hanyalah seorang wanita lemah yang harus tertutup. Sesungguhnya aku melakukan hal ini karena hatiku terbakar dan merasa sakit hati.”

“Lalu siapakah gerangan engkau?”, tanya Khalid kembali. Khaulah pun menjawab, “Aku adalah Khaulah binti Al Azwar. Sebenarnya aku bersama para wanita yang lain. Kemudian aku mendengar berita bahwasanya saudaraku, Dhirar tertangkap. Aku pun berangkat ke medan pertempuran seperti yang engkau lihat saat ini dan berharap dapat menemukan saudaraku yang kucintai.”

Mendengar hal itu, Khalid bin Walid pun kagum terhadap sikap dan sifat Khaulah binti Azwar. Kemudian Khalid pun memerintahkan semua pasukannya untuk kembali menyerang pasukan Romawi di bawah pimpinan Rofi’ bin Umairoh, demi menyelamatkan saudara Khaulah.

Referensi: Terjemahan Kitab Ta’bir

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.