Menunda Mandi Setelah Suci dari Haid

0
528

Penyusun : Faizah Khairunnisa

Beritalangitan.com – Keluarnya darah haid pada seorang wanita menyebabkan ia tidak diperbolehkan beribadah seperti biasanya, karna pada saat itu wanita dalam keadaan kotor. Seperti yang dinyatakan dalam hadist tentang wanita muslim kategori mustahadhah “Apabila darah haid berwarna hitam, berhentilah melaksanakan shalat. namun darahnya itu berwarna lain hendaklah cepat mandi wajib berwudhu, lalu shalat, karena tak lebih dari darah kotor” (HR Abu Daud: 286,304 dan An-NAsai: 1/123. 185) Lalu bagaimana hukumnya apabila ada seorang wanita yang telah berhenti darah haidnya setelah tiga hari sampai lima belas hari dalam keadaan haid ia tidak segera mandi?

Al-Imam Al-Muhaddits Muqbil ibnu Hadi Al-Wadi’i, semoga Allah Subhanahu wa ta’ala merahmati beliau, menjawab, “Bila darah haid telah berhenti dalam waktu tiga hari, kurang ataupun lebih, wajib bagi si wanita untuk mandi dan mengerjakan shalat bila telah masuk waktunya, serta diperkenankan bagi suaminya untuk men-datangi-nya berdasarkan firman Allah Subhanahu wa ta’ala:

Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah, ‘Haid itu adalah kotoran’. Oleh karena itu kalian harus menjauhkan diri dari istri-istri kalian di waktu haidnya (tidak melakukan jima’ pada kemaluan) dan janganlah kalian mendekati (menggauli) mereka sampai mereka suci dengan mandi. Apabila mereka telah suci dengan mandi maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepada kalian (pada qubul). Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan dirinya. (Al-Baqarah: 222)

Tidak diperbolehkan si wanita menunda mandinya setelah darah haidnya berhenti (selesai masa haid). Bila ia tidak mendapatkan air untuk mandi suci atau ia tidak mampu menggunakan air, maka diperkenankan baginya bertayammum sampai ia mendapatkan air atau mampu menggunakan air, serta wajib baginya mengerjakan shalat dengan tayammum tersebut serta diperkenankan bagi suaminya untuk men-”datangi”-nya. Wallahu a’lam. (Ijabatus Sa’il ‘ala Ahammil Masa’il, hal. 703)

Sumber: Asy Syariah No. 51/V/1430 H/2009, halaman 91. Katagori: Fatawa Al-Mar’ah Al-Muslimah

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.