Rumaisha Ummu Sulaim, Maharnya adalah Keislaman

Oleh : Hafidz muftisany

0
228

Satu di antara kegemilangan wanita Anshar adalah keimanan Ummu Sulaim. Ia adalah sosok cerdas, bijaksana, luar berpikir, dan berakhlak mulia. Nama lengkapnya Rumaisha Ummu Sulaim binti Malhan bin Khalid bin Zaid bin Hiram bin Jundab bin ‘Amir bin Ghanam bin ‘Adie bin an-Najaar al-Anshariyah al-Khazrajiyah.

Ia adalah salah seorang wanita di Madinah yang memeluk Islam. Sifat-sifat yang dimiliki sosok seorang Muslimah melekat padanya. Maka tak heran, anak pamannya, Malik bin Nadhar, meminangnya untuk dijadikan istri. Dari pernikahan keduanya, lahirlah sahabat setia Rasulullah SAW, Anas bin Malik.

Saat Islam datang di negeri Makkah, warga Anshar yang jujur sudah mulai mendengar berita gembira datangnya seorang Nabi. Ummu Sulaim adalah salah satu penduduk Madinah yang langsung menyambut seruan Islam. Tidak ada keraguan di dalamnya meski ia paham konsekuensi keimanannya di antara kaumnya yang belum beriman.

Kemarahan besar ia dapatkan dari suaminya, Malik bin Nadhar. Malik mendamprat Ummu Sulaim yang telah memeluk cahaya Islam. “Apakah kamu sudah murtad dari agamamu?” tanya Malik. “Tidak!” jawab tegas Ummu Sulaim, “bahkan aku sesungguhnya telah beriman.” Karena perbedaan prinsip keimanan, keduanya pun berpisah.

Setelah bercerai, sosok Ummu Sulaim yang teguh, keibuan, dan jujur menarik hati Abu Thalhah. Seorang hartawan yang kala itu juga masih belum beriman. Ia pun mengajukan lamaran ke Ummu Sulaim. Namun, Ummu Sulaim dengan tegas menolaknya.

“Demi Allah, orang seperti engkau tidak pantas ditolak. Hanya saja engkau adalah orang kafir, sedangkan aku seorang Muslimah. Sehingga, tidak halal bagiku untuk menikah denganmu. Jika kamu masuk Islam, maka itulah mahar bagiku dan aku tidak meminta yang selain dari itu,” ungkap Ummu Sulaim kepada Abu Thalhah.

Sungguh, ungkapan tersebut mampu menyentuh perasaan yang paling dalam dan mengisi hati Abu Thalhah. Ummu Sulaim bukanlah seorang wanita yang suka bermain-main dan takluk dengan rayuan kemewahan.

Ummu Sulaim adalah wanita cerdas, namun hatinya lembut. Abu Thalhah berpikir apakah dirinya akan mendapatkan wanita yang lebih baik dari Ummu Sulaim untuk diperistri dan menjadi ibu bagi anak-anaknya.

Dengan mantap Abu Thalhah pun mengikrarkan keislamannya. “Aku berada di atas apa yang kami yakini, aku bersaksi tiada Tuhan yang haq kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.” Maka jadilah Ummu Sulaim menikah dengan Abu Thalhah dengan mahar keislaman. Sebuah mahar yang sangat agung.

Abu Thalhah dan Ummu Sulaim membangun keluarga yang berlandaskan iman dan Islam. Tidak ada satu pun dilewatkan tanpa kebaikan dari Allah SWT.

Satu kisah terkenal tentang sikap terbaik Ummu Sulaim adalah saat Abu Thalhah harus pergi sementara anak mereka sakit keras. Karena sebuah urusan penting, Abu Thalhah harus merelakan meninggalkan anaknya dengan Ummu Sulaim.

Saat Abu Thalhah pergi, kesehatan sang anak semakin menurun dan akhirnya meninggal dunia. Saat Abu Thalhah kembali ke rumah, Ummu Sulaim tak ingin membuat hati Abu Thalhah sedih. Maka Ummu Sulaim memasak makanan kesukaan Abu Thalhah, ia pun bersolek dan memakai pakaian terbaiknya untuk menyambut sang suami. Saat Abu Thalhah menanyakan kondisi anak mereka, Ummu Sulaim menjawab, “Sekarang ia sudah lebih tenang.”

Maka Ummu Sulaim menjamu Abu Thalhah dengan masakannya. Setelah merasa kenyang, Abu Thalhah pun diajak beristirahat. Setelah berkumpul dan Abu Thalhah merasa tenang, Ummu Sulaim memulai percakapan. “Wahai suamiku, apa pendapatmu jika suatu kaum menitipkan barang ke kita, lantas ia kembali untuk mengambil barangnya, apakah kita pantas menolaknya?”

“Tentunya tidak boleh wahai istriku,” jawab Abu Thalhah. “Bagaimana jika kita keberatan tatkala barangnya diambil?” tanya Ummu Sulaim lagi. “Itu sangat tidak adil,” jawab Abu Thalhah. “Sesungguhnya anakmu titipan Allah dan Allah telah mengambilnya dari kita. Maka tabahkanlah hatimu dengan merelakan anakmu.” Ummu Sulaim menceritakan hal yang sebenarnya.

Abu Thalhah marah karena tidak diberi tahu secara langsung kabar tersebut. Keesokan harinya ia menghadap Rasulullah SAW dan mengadukan permasalahannya. Rasulullah SAW justru menjawab, “Semoga Allah merahmati malam kalian.” (HR Muslim). Ummu Sulaim pun hamil dan setelah melahirkan, Rasulullah SAW memberikannya nama Abdullah.

Kesabaran yang luar biasa ditunjukkan oleh Ummu Sulaim. Sikapnya yang tegar karena ditinggal anaknya lebih kuat sehingga bisa menghibur hari suaminya. Ia pula yang menyerahkan anaknya, Anas bin Malik, sebagai pelayan rumah Rasulullah. Ummu Sulaim merasa malu tidak bisa memberikan apa-apa untuk dakwah. Ia pun menyerahkan Anas sebagai pemuda yang terus ikut bersama Rasulullah bahkan banyak meriwayatkan hadis dari Beliau SAW.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.