Safanah Binti Hatim, Perempuan Shalihah yang Dermawan

0
1959
Ilustrasi (shutterstock)

Beritalangitan.com — Pada zaman ini siapa yang tak ingin menguasai uang? Berbagai investasi ditawarkan, berbagai buku tips menjadi kaya dicetak, semuanya laris manis mengundang perhatian. Orang rela melakukan apa saja demi kekayaan. Bahkan, kekayaan tak jarang membawa orang pada kondisi yang jauh lebih memiskinkan.

Uang bagi orang beriman hanyalah sebagai alat. Jika memiliki kelebihan harta, orang beriman ini hanya berpikir bagaimana berbuat manfaat besar bagi sesama.

Dalam sejarah Islam dikenal sebuah keluarga yang sangat dermawan. Mereka adalah Hatim ath-Thai dan putrinya, Safanah.

Dalam 150 Perempuan Shalihah karya Abu Malik Muhammad bin Hamid disebutkan, anak gadis itu bernama lengkap Safanah binti Hatim bin Abdullah bin Sa’d bin al-Hasyraj bin Imri’il Qais bin Ada bin Ahzam bin Abi Ahzam bin Rabi’ah bin Jurul bin Tsa’i bin Amr bin al-Ghauts bin Tha’i ath-Tha’i.

Safanah lahir dari keluarga pembesar suku Thai. Ia berparas cantik. Kulitnya putih dan postur tubuhnya sedang. Kecantikan, kekayaan, keturunan yang baik, serta agama menjadi kombinasi kualitas yang tergambar dalam diri perempuan ini.

Safanah mendapat kemuliaan dengan memiliki ayah seorang yang sangat dermawan. Ia adalah anak pertama dari Hatim al-Jawad yang biasa dipanggil al-Jud (murah hati). Julukannya adalah Abu Safanah dan Abu ‘Adi. Hatim adalah penyair terkemuka di Arab. Kedermawanannya sejajar dengan kelihaiannya membuat syair.

Kedermawanan Safanah Binti Hatim Terinspirasi Rasulullah

Ayahanda Safanah, Hatim ath-Thai adalah pribadi yang zuhud. Ia menjauh dari kenikmatan dunia yang selalu mendatangi. Ia selalu saja menginfakkan hartanya kepada tamu atau orang-orang yang membutuhkan. Hal itu kadang membuatnya susah dan menyebabkan kelaparan pada anak-anak dan istrinya. Namun, ini tidak membebani hidupnya.

Sifat ini menurun kepada Safanah. Suatu hari kedua orang ini bercakap-cakap membicarakan perkara harta. “Putriku, bila dua orang mulia berkumpul menguasai harta, niscaya akan cepat habis. Bagaimana bila harta itu saya pegang dan kamu berdiam diri, atau kamu yang pegang hingga tak tersisa apa pun?”

Safanah yang dikenal santun menjawab dengan kedewasaan, “Saya tidak berkenan memegang harta, Ayahanda.”

Hatim pun demikian. Keduanya tak hendak mendominasi pengelolaan harta. Mereka akhirnya sepakat membagi rata harta yang dimaksud dan mengelolanya secara proporsional.

Hingga akhir hayatnya di tahun 46 Hijriyah, ayahanda Safanah tak sempat memeluk agama Islam. Walaupun begitu, keluhuran akhlaknya menjadi teladan dan dipuji oleh suku-suku di Makkah.

Suatu hari Safanah datang menemui Rasulullah SAW dan berkata, “Wahai Muhammad, jika kamu akan meninggalkanku, jangan sampai terdengar oleh khalayak orang Arab. Sebab, sesungguhnya aku adalah anak dari pemuka kaumku. Dan sesungguhnya bapakku telah mengobati orang yang menderita, menjaga dari kerusakan, menghormati tamu, mengenyangkan orang yang sedang kelaparan, membebaskan permasalahan orang yang sedang bermasalah, menyebarkan salam, menghidangkan makanan, dan tidak pernah sama sekali mengusir yang sedang memiliki keperluan. Aku adalah anak perempuan Hatim ath-Thai.”

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Wahai Jariyah, sesungguhnya ini adalah sebenar-benarnya sifat seorang mukmin. Jika saja bapakmu itu orang Islam, tentu kami akan mengasihinya. Wahai kaum Muslimin! Biarkan dia karena sesungguhnya bapaknya mencintai akhlak yang mulia dan Allah menyukai akhlak yang mulia.”

Suatu ketika datang Rahib dari kaum Bani Thai untuk menjemput Safanah. Saat kedatangan tamu ini, Nabi SAW pun memberikan bekal dan pakaian kepada Safanah. Lalu Safanah dan Rahib ini pergi ke arah Syam.

Tampaknya kedermawanan Nabi SAW menginspirasi Safanah. Sehingga, ia pun menyatakan beriman diikuti oleh seluruh kaumnya. Ia sempat ditanya oleh saudara laki-lakinya, Adi bin Hatim, soal sosok Rasulullah SAW.

“Bagaimana menurut pendapatmu tentang laki-laki ini?” Safanah berkata, “Menurut pendapatku, demi Allah! Lebih baik kamu cepat menyusulnya. Jika orang itu adalah seorang nabi, orang yang menyusul akan mendapat keuntungan. Bahkan, jika dia hanya seorang raja, kamu tidak akan luput dari kebaikannya.”

Keyakinan Safanah menjadi jalan hidayah bagi adiknya. Adi bin Hatim dan sejumlah kaumnya akhirnya memeluk Islam. Dalam Islam, sifat kedermawanan Safanah tak luntur, bahkan semakin bercahaya. (die)

Sumber : Republika

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.